Uncategorized

Muqoddimah Kitab Taqrib Bagian 3

taqrib

كتاب الطهارة
المياه التي يجوز بها التطهير سبع مياه ماء السماء وماء البحر وماء النهر وماء البئر وماء العين وماء الثلج وماء البرد ثم المياه على أربعة أقسام طاهر مطهر غير مكروه وهو الماء المطلق استعماله، وطاهر مطهر مكروه استعماله وهو الماء الشمس، وطاهر غير مطهر لغيره وهو الماء المستعمل والمتغير بما خالطه من الطاهرات وماء نجس وهو الذي حلت فيه نجاسة وهو دون القلتين أو كان قلتين فتغير والقلتان خمسمائة رطل بغدادي تقريبا في الأصح

(Ditinjau dari segi asal muasalnya) , Air yang bisa dibuat untuk bersuci itu ada 7 (tujuh) yaitu :

1. Air langit (hujan)
2. Air laut
3. Air sungai
4. Air sumur
5. Air sumber (mata air)
6. Air salju / es
7. Air embun

 

(Dari 7 macam air tersebut) bisa diklasifikasikan menjadi 4 (empat) kelompok yaitu :

1. Air suci dan mensucikan serta tidak makruh digunakan, yaitu air mutlaq
2. Air suci dan mensucikan yang makruh digunakan, yaitu air panas karena sinar matahari
3. Air suci tapi tidak bisa meyucikan yaitu air musta’mal dan air yang air berubah karena kecampuran perkara suci
4. Air najis yaitu air kurang 2 qullah yang terkena najis atau air yang telah mencapai 2 qullah terkena najis dan berubah.
Adapun ukuran 1 qullah adalah 500 (lima ratus) kati baghdad menurut pendapat yang paling sahih.

 

PENJELASAN

Macam-macam Air
Ditinjau dari segi kegunaan sebagai sarana bersuci (thahârah), air dibagi menjadi empat macam :

1. Air suci yang bisa menyucikan dan tidak makruh digunakan
Air pada bagian yang pertama ini disebut juga dengan Air Mutlak. Yang bisa masuk dalam kategori ini adalah tujuh macam air yang keluar dari perut bumi atau yang turun dari langit ( air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air sumber, air es atau salju, dan air embun). Tujuh macam air di atas hukumnya suci dan bisa menyucikan serta tidak makruh digunakan, dengan syarat tidak termasuk dalam 3 kategori air yang akan diterangkan berikutnya.

 

2. Air suci yang dapat menyucikan tetapi makruh digunakan du badan bukan untuk lainya misalnya mencuci pakaian kora2 dll.
Air ini makruh digunakan karena ada efek negatif yakni bisa menyebabkan penyakit barosh / belang pada kulit atau mengakibatkan kulit yang sakit menjadi lama sembuhnya, yaitu air yang panas karena terkena sinar matahari di daerah tertentu yang bersuhu panas misalnya di Timur tengah sperti di daerah Hijaz, dan wadahnya terbuat dari bahan yang dicetak dengan cara ditempa atau menggunakan api seperti bejana atau timba yang terbuat dari besi, tembaga dan sejenisnya. Tidak termasuk dalam kategori ini, wadah yang terbuat dari emas dan perak. Begitu juga makruh, menggunakan air yang terlalu panas dan terlalu dingin. Hukum makruh tersebut tidak berlaku jika airnya sudah dingin.

 

3. Air suci yang tidak bisa menyucikan

Yang termasuk kategori air ini adalah :

a. Air musta’mal, yaitu air yang sudah digunakan untuk menghilangkan hadas atau najis. Air ini hanya bisa digunakan untuk kebutuhan selain bersuci, seperti minum, memasak dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, seumpama berwudlu atau mandi dan airnya kurang dari dua kullah maka dianjurkan menggunakan alat ciduk /gayung, jangan mengambil air secara langsung. Hal itu untuk menjaga kemurnian air tersebut.

Air yang digunakan untuk menghilangkan najis ini berhukum tetap suci walaupun tidak bisa menyucikan itu harus memenuhi persyaratan, yaitu : 1. sisa air tersebut ditambah dengan air yang diserap misalnya baju yang dicuci timbangannya tidak lebih banyak
2. Tidak berubah salah satu sifatnya
Jika tidak memenuhi 2 syarat tsb. maka airnya berhukum metanajjis, sama dengan pembagian air yang ke 4

b. Air buah-buahan atau tumbuh-tumbuhan semacam air kelapa, dan air semangka.

c. Air mutlak yang tercampur benda suci yang larut, sehingga menyebabkan terjadinyaperubahan mencolok pada sifat air. Contohnya, air teh atau air yang tercampur oleh sabun sampai terjadi perubahan mencolok sehingga ada perubahan nama dari air saja menjadi air teh. Jika perubahannya hanya sedikit maka tetap bisa menyucikan.

Berikut ini adalah tidak termasuk dalam kategori pembagian air yang ketiga, artinya tetap berhukum suci dan menyucikan, yaitu :

a. Air yang berubah karena terlalu lama diam

b. Air yang berubah sifatnya karena tertular oleh benda yang mendampinginya, misalnya air yang berbau busuk karena di dekat air itu ada bangkai

c. Air yang berubah disebabkan benda yang terendam di dalam air itu asal benda itu tidak larut dan bisa dibedakan dari airnya dengan mata telanjang, misalnya air yang berubah busuk baunya karena direndami kayu

d. Air yang berubah karena tercampur benda yang memang lazim bersinggungan dengan air, semisal debu, dan lumut.

Kesimpulannya empat air ini masih tetap suci dan bisa menyucikan meskipun terjadi perubahan mencolok pada bau, warna, maupun rasa dari air itu.

 

4. Air najis
Yang dimaksud di sini adalah air yang terkena najis. Air bisa menjadi najis karena dua kemungkinan :

1. Jika airnya banyak (mencapai dua qullah) lalu terkena najis, maka air tersebut menjadi najis apabila terjadi perubahan pada salah satu sifatnya (bau, rasa dan warna). Bila tidak terjadi perubahan sama sekali maka tetap suci

2. Jika airnya sedikit, kemudian terkena najis, maka air tersebut menjadi najis, baik terjadi perubahan sifat atau tidak.

Air bisa disebut sedikit apabila tidak mencapai dua qullah.
Mengenai ukuran duaqullah ulama masih beda pendapat. Menurut Imam Nawawi dua qullah = 174,580 liter (ukuran wadah bersegi empat = 55,9cm3); menurut Imam Rafi’i = 176,245 liter (ukuran wadah bersegi empat = 56,1cm3)

 

Sumber: Kitab Fiqih Syafi’i Matan Fathul Qorib oleh Qodhi Abu Syujak Ahmad bin Alhusain

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s