Uncategorized

Muqoddimah Kitab Taqrib Bagian 2

Assalamu’alaikum wr wb,

Mari kita lanjutkan bahasan Muqoddimah Kitab Taqrib selanjutnya :

وصلى الله على سيدنا محمد النبي وآله الطاهرين وصحابته أجمعين
yaitu tentang :
– Shalawat kepada Nabi
– Keluarga Nabi
– Sahabat Nabi

taqrib

Dalam kegiatan sehari-hari, baik dalam shalat atau di luar shalat kita sering sekali membaca shalawat Nabi.  Tetapi di antara kita masih banyak yang belum mengetahui makna shalawat itu sendiri. Oleh karena itu, biar kita lebih mantap dan semangat dalam bershalawat kepada Nabi, mari kita bahas makna shalawat tersebut.

MAKNA SHALAWAT

SHALAWAT adalah bentuk jamak dari kata shalat yang mempunyai beberapa arti tergantung pada siapa pelakunya, antara lain :

1. Shalawat dari Allah berarti : rahmat dan ridla-Nya.
Allah bershalawat kepada Nabi, maksudnya Allah melimpahkan rahmat dan ridloNya kepada Nabi.

2. Shalawat dari Malaikat berati : do’a dan istighfar
Malaikat bershalawat kepada Nabi, maksudnya berdo’a dan memohon ampun kepada Allah untuk Nabi

3. Shalawat dari Umat Muhammad / orang mukmin berati : do’a dan pengagungan ( ta’dhim )
Kita bershalawat kepada Nabi, berarti mendo’akan sekaligus mengagungkan Nabi

Sebagaimana diterangkan dalam Tafsir Al- Qurthubi :

[سورة الأحزاب (33): آية 56]
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً (56)

هَذِهِ الْآيَةُ شَرَّفَ اللَّهُ بِهَا رَسُولَهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ حَيَاتَهُ وَمَوْتَهُ، وَذَكَرَ مَنْزِلَتَهُ مِنْهُ، وَطَهَّرَ بِهَا سُوءَ فِعْلِ مَنِ اسْتَصْحَبَ فِي جِهَتِهِ فِكْرَةَ سُوءٍ، أَوْ فِي أَمْرِ زَوْجَاتِهِ وَنَحْوَ ذَلِكَ. وَالصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ رَحْمَتُهُ وَرِضْوَانُهُ، وَمِنَ الْمَلَائِكَةِ الدُّعَاءُ وَالِاسْتِغْفَارُ، وَمِنَ الْأُمَّةِ الدُّعَاءُ وَالتَّعْظِيمُ لِأَمْرِهِ ( تفسير القرطوبى ج14 ص : 232 )
[18/5 2.44 PM] ‪+62 852-2888-2066‬: Siapakah yang disebut sebagai SAHABAT Nabi saw?

Sahabat adalah orang yang pernah bertemu dengan Nabi SAW, dalam keadaan Islam lagi iman, kemudian ia pun mati dalam keadaan Islam.

Dengan definisi tersebut akan mudah untuk menjelaskan tentang kesahabatan seseorang dengan Nabi SAW.

Orang-orang yang segenerasi dengan Nabi SAW, mereka beriman dan Islam, namun belum pernah bertemu dengan beliau, seperti Najasyi serta orang yang bermaksud hendak bertemu beliau, tidak dikatakan sebagai sahabat.

Disamping itu seseorang dikatakan sebagai sahabat Nabi saw ataukah bukan, tidaklah selalu dikaitkan dengan apakah ia pernah meriwayatkan sebuah hadits atau tidak.

Kemudian jika ada seorang sahabat yang beinteraksi dengan Nabi saw namun belum pernah melihat fisik beliau, lantaran ia buta, maka tetaplah ia sebagai sahabat, seperti Ibnu ummi Maktum.

Jika ada seseorang yang pernah Islam dan bertemu serta bergaul dengan Nabi saw, namun kemudian mati dalam keadaan murtad, seperti Abdullah bin Jahsy dan Abdullah bin Khathai, maka bukan lagi dianggap sebagai sahabat.

Akan tetapi jika yang murtad tersebut kemudian kembali menjadi muslim, baik kembalinya itu tatkala Nabi saw masih hidup atau wafat, maka masih digolongkan sebagai sahabat. Seperti kisah Syas bin Qais yang pernah murtad, namun tatkala menghadap Abu Bakar ash Shidiq ia sebagai tawanan perang, kemudian menyatakan kembali ke Islam. Abu Bakar ash Shidiq menerimanya bahkan beliau menikahkan Syas bin Qais tersebut dengan saudara perempuan beliau.

Begitu pula anak-anak yang belum mencapai umur dewasa, mereka beriman dan Islam serta pernah bergaul bersama Nabi saw, maka tetap termasuk sebagai sahabat. Seperti kedua cucu beliau, Ibnu Zubair dsb.

Lebih lengkap dan mantapnya, silahkan baca referensi berikut ini :

(وَصَحبه) اسْم جمع لصَاحب بِمَعْنى الصَّحَابِيّ وَهُوَ من لَقِي النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم بعد نبوته فِي حَال حَيَاته وَلَو أعمى كَابْن أم مَكْتُوم أَو غير مُمَيّز وَمن ثمَّ عدوا مُحَمَّد بن أبي بكر رَضِي الله عَنْهُمَا صحابيا مَعَ وِلَادَته قبل وَفَاته صلى الله عَلَيْهِ وَسلم بِثَلَاثَة أشهر وَأَيَّام وعد بعض الْمُحدثين من رَآهُ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قبل النُّبُوَّة وَمَات قبلهَا على دين الحنيفية كزيد بن عَمْرو بن نفَيْل صحابيا ( نهاية الزين ج 1 ص : 5 )

و (صحبه): اسم جمع لصاحب بمعنى: الصحابي، وهو: من لقي النبي صلى الله عليه وسلم بعد البعثة يقظة في حياته لقاء متعارفاً -أي: ببدنه في عالم الدنيا مؤمناً، ومات على ذلك، وإن لم يره لنحو عمى، وإن لم يميز ولم يشعر كل منهما بالآخر. فخرج بـ (بعد البعثة): ورقة بن نوفل، وإن آمن به بعد خديجة -كما أوضحته في “الأصل”- مع من ثبتت له الصحبة من الأنبياء والملائكة.
( بشرى الكريم ج1 ص : 51 )

Sumber: Kitab Fiqih Syafi’i Matan Fathul Qorib oleh Qodhi Abu Syujak Ahmad bin Alhusain

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s