Kitab Kuning · Uncategorized

Muqoddimah Kitab Taqrib

taqrib.jpg

 

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين وصلى الله على سيدنا محمد النبي وآله الطاهرين وصحابته أجمعين قال القاضي أبو شجاع أحمد بن الحسين بن أحمد الأصفهاني رحمة الله تعالى سألني بعض الأصدقاء حفظهم الله تعالى أن أعمل مختصرا في الفقه على مذهب الإمام الشافعي رحمة الله عليه ورضوانه في غاية الاختصار ونهاية الإيجاز يقرب على المتعلم درسه ويسهل على المبتدئ حفظه وأن أكثر من التقسيمات وحصر الخصال فأجبته إلى ذلك طالبا للثواب راغبا إلى الله تعالى في التوفيق للصواب إنه على ما يشاء قدير وبعباده لطيف خبير.

Muqoddimah

Bismillahirrohmanirrahim. Segala puji bagi Allah Penguasa alam semesta. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada penghulu kita Nabi Muhammad, beserta semua keluarga dan para sahabatnya.

Qadhi Abu Syuja’ Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Asfahani berkata : “Aku diminta oleh sebagian teman untuk menyusun kitab fiqh yang ringkas bermadzhab Syafi’i yang sangat singkat, dan aku juga diminta memperbanyak bagian-bagian serta membatasi permasalahan2 fiqhiyah agar mudah dipelajari dan dihafal oleh santri yang baru belajar,maka Aku penuhi permintaan itu seraya mencari fahala dan berharap mendapat taufik / pertolongan Allah pada kebenaran. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa terhadap apa saja yang dikehendaki dan Maha Pengasih kepada hamba2Nya lagi Maha Mengetahui”.
Dalam Muqoddimah Kitab Taqrib ini ada beberapa hal yang patut kita bahas diantaranya :
1. Hamdalah
2. Pengertian sholawat
3. Siapakah yg disebut sahabat nabi
4. Siapakah keluarga nabi
5. Dll.
HAMDALAH

HAMDUN ( حَمْـدٌ ) : menurut bahasa arab berarti “pujian yang sempurna”. Pujian kebalikannya celaan, lebih umum artinya dari pada “syukur” karena syukur atau terima kasih adalah sebuah ungkapan sebagai balasan atas kenikmatan yang telah diterima, seperti ungkapan “aku berterima kasih atas kebaikannya”, sedangkan kalau pujian bisa terjadi atas dasar kekaguman semata “aku memuji ketampanannya, ilmunya, pribadinya dll”.

Diberi tambahan “Al” berfaedah sebagai “Istighroq lil-jinsi” artinya mencakup segala jenis pujian yang bila dijabarkan bentuknya ada empat macam :

1. Hamdul Qodim ‘alal Qodim ( Pujian Pencipta terhadap Diri-Nya Sendiri) maksudnya adalah Allah SWT memuji kepada Dirinya Sendiri, hal ini Adalah patut, karena yang pantas sombong hanya Allah SWT semata, makhluk ciptaannya tidaklah pantas menyombongkan diri. Hal ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an, terutama saat menerangkan tentang Asmaul Husna (silahkan dicari sendiri).

2. Hamdul Qodim ‘alal Huduts ( Pujian Pencipta terhadap makhluk-Nya ) maksudnya adalah Allah memberikan penghargaan atau meningkatkan derajat kepada mahluk-Nya. Contohnya saat Isro’ Mi’roj Rosululloh Saw “Innalloha wa malaaikatahu yusolluna alannabiyyi…” artinya “Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikatnya menyampaikan salam kepada Nabi (Muhammad SAW)….”

3. Hamdul Huduts ‘alal Qodim ( Pujian Mahluk terhadap Pencipta ) maksudnya kita sebagai mahluk wajib memuji kepada Allah SWT. Hal ini pasti kita lakukan saat melakukan sholat atau berdoa. Hal ini telah dicontohkan oleh Rosululloh saat beliau melihat segala hal yang beliau senangi, beliau selalu mengucapkan hamdalah.

4. Hamdul Huduts ‘alal Huduts ( Pujian Makhluk terhadap makhluk ) maksudnya kita sebagai mahkluk diperbolehkan untuk memuji atau memberikan penghargaan kepada orang lain sesama makhluk.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak jarang melakukan pujian pada orang lain atau bahkan kita sendiri yang banjir pujian. Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi modal positif yang dapat memotivasi kita agar terus meningkatkan diri dalam hal yang positif.

Namun, kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan, lepas kontrol, dan seterusnya. Semakin sering orang lain memuji kita, maka semakin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri. Padahal Allah SWT mengingatkan dalam firmanNya :
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Najm; 32)

Agar dapat menyikapi pujian secara sehat, Nabi Saw. memberikan 3 kiat yang sangat menarik untuk diteladani

1. Selalu mawas diri supaya tidak sampai terbuai oleh pujian yang ditujukan orang lain kepada kita. Oleh karena itu, setiap kali ada yang memuji Baginda Nabi SAW menanggapinya dengan doa: “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.” (HR. Al-Bukhari).
Lewat doa ini, Nabi SAW mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang berpotensi menjerumuskan kita. Ibaratnya, orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang kena getahnya. Orang lain yang melontarkan ucapan, tapi malah kita yang terjerumus menjadi besar kepala dan lupa diri.

2. Menyadari hakikat pujian adalah sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain. Karena sebenarnya setiap manusia pasti memiliki sisi gelap. Dan ketika ada seseorang yang memuji kita, maka itu lebih karena faktor ketidaktahuannya akan belang serta sisi gelap yang kita miliki. Hal ini bukan berarti kita boleh memelihara sisi gelap tersebut, tapi jadikan sisi terang kita sebagai modal untuk menerangkan hati. Oleh sebab itu, kiat Nabi SAW dalam menanggapi pujian adalah dengan berdoa :
“Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku)” (HR. Al-Bukhari)

3. Kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain tentang kita adalah benar adanya, Nabi SAW mengajarkan kita agar memohon kepada Allah Swt. untuk dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain. Maka kalau mendengar pujian seperti ini, Nabi SAW kemudian berdoa :
“Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira”. (HR. Al-Bukhari).

Selain memberikan teladan kiat menyikapi pujian, Nabi SAW dalam keseharian beliau juga memberikan contoh bagaimana mengemas pujian yang baik. Intinya, jangan sampai pujian yang terkadang secara spontan keluar dari bibir kita, malah menjerumuskan dan merusak kepribadian sahabat yang kita puji.

Ada beberapa teladan yang dapat disarikan dari kehidupan Nabi SAW saat memuji yaitu di antaranya :

1. Nabi Saw. tidak memuji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka. Suatu hari, seorang Baduwi yang baru masuk Islam bertanya tentang Islam. Nabi menjawab bahwa Islam adalah shalat lima waktu, puasa, dan zakat. Maka Orang Badui itupun berjanji untuk menjalankan ketiganya dengan konsisten, tanpa menambahi atau menguranginya. Setelah Si Baduwi pergi, Nabi SAW memujinya di hadapan para Sahabat, “Sungguh beruntung kalau ia benar-benar melakukan janjinya tadi.” Setelah itu beliau menambahi “Barangsiapa yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah Orang (Baduwi) tadi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Thalhah ra.)

2. Nabi SAW lebih sering melontarkan pujian dalam bentuk doa. Ketika melihat minat dan ketekunan Ibn Abbas ra. dalam mendalami tafsir Al-Qur’an, Nabi SAW tidak serta merta memujinya. Beliau lebih memilih untuk mendoakan Ibn Abbas ra. : “Ya Allah, jadikanlah dia ahli dalam ilmu agama dan ajarilah dia ilmu tafsir (Al-Qur’an)” (HR. Al-Hakim, dari Sa’id bin Jubair).

Begitu pula, di saat Nabi SAW melihat ketekunan Abu Hurairah ra. Dalam mengumpulkan hadits dan menghafalnya, beliau lantas berdoa agar Abu Hurairah ra dikaruniai kemampuan untuk tidak lupa apa yang pernah dihafalnya. Doa inilah yang kemudian dikabulkan oleh Allah SWT dan menjadikan Abu Hurairah ra sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.

Pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita, merupakan salah satu tantangan berat yang dapat merusak kepribadian kita. Pujian dapat membunuh karakter seseorang, tanpa ia sadari. Oleh karena itu, ketika seorang sahabat memuji sahabat yang lain secara langsung, Nabi SAW menegurnya : “Kamu telah memenggal leher temanmu”(HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakar ra.)

Senada dengan hadits tersebut, Ali ra berkata dalam ungkapan hikmahnya yang sangat populer, “Kalau ada yang memuji kamu di hadapanmu, akan lebih baik bila kamu melumuri mulutnya dengan debu, daripada kamu terbuai oleh pujiannya.”

Namun ketika pujian sudah menjadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat kita, apa lagi pujian melalui DUMAY (Dunia Maya), maka yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapinya secara sehat agar tidak sampai lupa diri dan lepas kontrol. Atau bisa mengapresiasi setiap pujian hanya sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain serta terus berdoa kepada Allah SWT agar dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang.

Selain itu yang tidak kalah pentingnya, adalah di saat kita memuji seseorang hendaknya bisa mengemas pujian itu secara sehat. Memuji tidak mesti dengan kata-kata, tapi akan lebih berarti bila diekspresikan lewat dukungan dan doa. Sehingga dengan demikian, kita tidak sampai menjerumuskan orang yang kita puji.

Do’a Nabi SAW saat mendapat pujian :

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ
“ Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka “ ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah).

Semoga bermanfaat dan pembahasan ini dibarengi hidayah Allah, Aamiin…

 

Sumber: Kitab Fiqih Syafi’i Matan Fathul Qorib oleh Qodhi Abu Syujak Ahmad bin Alhusain

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s