Uncategorized

Puasa (bagian 2)

 

764138c8d1de07706d2707864638ea7a

Hal-hal yang Mewajibkan Qadla dan Kafarat Sebab Memabatalkan Puasa

  • Versi imam Hanafi
  1. Makan atau minum sesuatu yang bisa menguatkan badan dan diminati oleh syahwat hati
  2. Jima’ dengan istrinya, baik lewat qubul atau dubur

Dua hal tersebut mewajibkan qadla dan membayar fidyah dengan beberapa syarat:

  1. Baigh dan berakal serta melakukannya dalam keadaan berpuasa;
  2. Tidak ada udzur syar’i seperti sakit;
  3. Tidak dipaksa;
  4. Terdapat unsur kesengajaan.
  • Tendensi dan Keterangan

Imam Hanafi berpendapat bahwa merusak puasa Ramadhan dengan makan, minum atau mengonsumsi obat yang bisa bermanfaat pada badan secara sengaja dan tangapa adanya udzur, wajib membayar kafarat. Tendensi beliau dalam hal ini adalah hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi :

روى أبو هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم قال من أفطر في رمضان فعليه ما على المظاهر (رواه البيهقي)

Artinya: diriwayatkan dari Abu Huroiroh, bahwa Nabi SAW bersabda “ barang siapa yang membatalkan puasa Ramadlan niscaya dia wajib membayar kafarat yang sama dengan kafarat yang diwajibkan bagi orang yang sumpah dzihar”. (HR. Baihaqi)

Dan berdasarkan pada hadits Nabi yang berbunyi:

أن رجلا سأله فقال يا رسول الله أفطرت في رمضان فقال عليه الصلاة و السلام من غير مرض و لا سفر؟ فقال نعم فقال أعتق رقبة

Artinya: seorang laki-laki bertanya pada Nabi “ wahai Rosululloh saya telah membaalkan puasa pada bulan Ramadlan” Nabi menjawab “ apakah tidak karena sakit dan tidak dalam perjalanan?” dia menjawab “ benar Nabi” Nabi bersabda “merdekakanlah budak”

Pada hadits yang awal Nabi tidak menjelaskan penyebab batalnya puasa, dan hadits kedua Nabi tidak menanyakan penyebab batalnya dengan jima’ atau yang lainnya, tetapi yang ditanyakan beliau hanyalah sebab sakit atau bepergian. Dengan istimbath dari dua hadtis inilah imam Hanafi mencetuskan satu kesimpulan hukum bahwa orang yang mebatalkan puasa dengan makan, minum, atau menkonsumsi obat yang bisa bermanfaat pada badan secara sengaja dan tanpa adanya udzur wajib membayar kafarat, sebagaimana membatalkan puasa dengan jima’.

Jima’ ketika berpuasa di bulan Ramadlan termasuk penyebab wajibnya kafarat, dengan pertimbagan karena penyebab ini merupakan hal yang paling sempurna di dalam merusak puasa, dan karena bertendensi pada hadits Nabi yang diriwayatkan imam Bukori Muslim

عن أبي هريرة جاء رجل الى النبي صلى الله عليه و سلم فقال هلكت قال و ما شأنك قال وقعت على امرأتي في رمضان قال هل تجد ما تعتق رقبة قال لا قال فهل تستطيع أن تصوم شهرين متتابعين قال لا قال فهل تستطيع أن تطعم ستين منسكينا قال لا…. (رواه البخارى و المسلم)

Artinya: diriwayatkan dari Abu Huroiroh bahwa seorang laki-laki mendatangai Nabi dan bertanya “saya celaka, Nabi” Nabi berkata “ apa yang terjadi padamu?” dia menjawab “saya menggauli istriku di siang hari bulan Ramadlan” Nabi bertanya “ apakah kamu punya harta untuk memerdekakan budak?” dia menjawab “tidak” Nabi bertanya “apakah kamu mampu berpuasa dua bulan terus menerus?” dia menjawab “tidak” Nabi bertanya “apakah kamu mampu memberi makan 60 orang miskin?” dia menjawab “tidak…”. (HR. Bukori Muslim)

Menurut imam Hanafi, wajib kafarat dibebankan terhadap pelaku laki-laki dan perempuan, bukan hanya pihak laki-lakinya saja. hal ini disebabkan karena beliau tidak melihat terhadapa dzatiahnya jima’, melainkan melihat rusaknya puasa, dan ternyata jima’ menyebabkan batal puasanya pihak laki-laki dan perempuan. Dalil yang dibuat pijakan beliau dalam kesimpulan ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Baihaqi:

روى أبو هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم قال من أفطر في رمضان فعليه ما على المظاهر (رواه البيهقي)

Artinya: diriwayatkan dari Abu Huroiroh bahwa Nabi bersabda “ barang siapa yang membatalkan puasa Ramadlan niscaya dia wajib membayar kafarat yang sama dengan kafarat yang diwajibkan bagi orang yang sumpah dzihar” (HR. Baihaqi)

Lafadz yang digunakan dalam hadits di atas adalah huruf syarat man (من) yang berfaedah umum yang konsekuwensinya memberlakukan hukum terhadap laki-laki dan perempuan. Dan diperkuat dengan alasan lain, yaitu baik laki-laki dan perempuan sama-sama dihukumi jima’, sehingga keduanya wajib membayar kafarat.

  • Menyetubuhi mayat dan hewan

            Dalam konsep imam Hanafi menyetubuhi mayat dan hewan tidak mengharuskan kafarat, baik mengeluarkan sperma atau tidak, karena menurut ‘urf nas (mayoritas manusia) yang memiliki watak yang normal menganggap mayat dan hewan tidak layak sebagai hal yang dapat membangkitkan syahwat

  • Hal-hal yang mewajibkan qadla (tidak kafarat) sebab membatalkan puasa menurut imam Hanafi
  1. Makan atau minum sesuatu yang tidak menguatkan badan;
  2. Makan atau minum sesuatu yang bisa menguatkan badan tetapi dnengan adanya udzur syar’i.
  3. Onani (mengeluarkan sperma dengan tangan atau lainnya)
  • Versi Imam Maliki
  1. Jima’ yang mewajibkan mandi;
  2. Muntah secara sengaja;
  3. Masuknya zat cair ke tenggorokan melalui mulut, telinga, mata atau hidung;
  4. Masuknya sesuatu yang padat maupun cair ke perut melalui lubang badan manapun

Empat hal di atas mewajibkan qadla dan membayar kafarat dengan beberapa syarat:

  1. Dilakukan ketiak dalam kondisi puasa Ramadlan;
  2. Dilakukan atas dasar kesengajaan;
  3. Ikhtiyar (tidak dipaksa);
  4. Mengetahui hukum keharaman hal tersebut.

Jika salah satu dari empat syarat tidak terpenuhi maka tidak wajib kafarat, melainkan hanya qadla puasa saja, contoh : bersetubuh karena dipaksa atau karena lupa.

  • Tendensi dan keterangan

Tendensi berikut keterangan beliau dalam permasalahan ini sama dengan konsepnya imam Hanafi, namun imam Maliki menambahkan beberapa hukum:

  • Orang yang memaksa istrinya untuk bersetubuh di siang Ramadlan wajib membayar dua kafarat yaitu untuk dia sendiri dan istrinya
  • Istri yang melayani suami dengan tanpa ada paksaan dari pihak suami, maka dia diwajibkan membayar kafarat sebagaimana suami, alasannya karena keduanya sama-sama batal puasa karena jima’. Tendensi beliau adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Baihaqi:
  • روى أبو هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم قال من أفطر في رمضان فعليه ما على المظاهر (رواه البيهقي)

Artinya: diriwayatkan dari Abu Huroiroh, bahwa Nabi bersabda “barangsiapa membatalkan puasa Ramadlan niscaya dia wajib membayar kafarat yang sama dengan kafarat yang diwajibkan bagi orang yang sumpah dzihar” (HR. Baihaqi)

  • Sebagian ulama’ Malikiyah berpendapat bahwa orang yang sudah terbebani kafarat tidak wajib qadla, alasannya karena hadits yang menunjukkan wajibnya kafarat tidak menyebutkan perintah mengqadla puasa
  • Versi Imam Syafi’i

Dalam konsep Syafi’iyah, menggauli istri merupakan penyebab tunggal terhadap wajibnya kafarat serta qadla puasa, hukum wajib kafarat serta qadla wujud apabila memenuhi beberapa ketentuan:

  1. Jima’ dilakukan ketika dalam kondisi berpuasa
  2. Dilakukan atas dasar kesengajaan
  3. Ikhtiyar (tanpa paksaan)
  4. Mengetahui hukum keharaman jima’ di siang hari
  5. Mukalaf (baligh berakal)

Apabila salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, tidak wajib kafarat, dengan bertendensi pada hadits Nabi yang diriwayatkan imam Nasa’i:

ان النبي صلى الله عليه و سلم قال رفع عن أمتي الخطأ و النسيان وما استكرهوا عليه (رواه النسائي)

Artinya: Nabi bersabda “ umatku tidak terbebani hukum karena kesalahan, lupa dan semua yang dilakukan karena dipaksa” (HR. Nasai)

Sedangkan alasan jima’ di selain bulan Ramadlan tidak wajib kafarat karena dalam redaksi hadits tidak menjelaskan hal terebut.

  • Tendensi dan Keterangan

            Tendensi berikut keterangan beliau dalam permasalahan ini sama dengan konsep imam-imam lainnya, namun imam Syafi’i memiliki beberapa perincian hukum, diantaranya:

  • Khilaf tentang wajibnya kafarat dan qadla puasa
  • Tidak wajib qadla puasa, karena hadits yang menunjukkan wajibnya kafatar tidak menyebutkan perintah mengqadla puasa
  • Wajib qadla meskipun telah terbebani tanggungan kafarat, karena status kafarat merupakan hukuman atas pelanggaran yang telah dilakukan dan hukum kafatar belum dapat menghilangkat tanggungan batalnya puasa. Sedangkan hadits Nabi yang hanya menjelaskan kafarat karena menyesuaikan kondisi saat itu, hal ini terbukti dengna adanya hadits lain yang menyebutkan kewajiban qadla bagi orang yang jima’ :

ان النبي صلى الله عليه و سلم أمر المجامع في رمضان أن يقضى يوما مكانه (رواه البخارى)

Artinya: sesungguhnya Nabi perintah pada orang yang jima’ di siang hari bulan puasa untuk mengqadla’ puasanya sebanyak hari yang dibuat jima’. (HR. Bukhori)

  • Menurut imam Auza’i wajib qadla puasa apabila kafarat dibayar dengan memerdekakan budak atau memberi makan pada fakir miskin, dan tidak wajib qadla apabila kafarat dibayar dengan berpuasa dua bulan berturut-turut.
  • Hal yang mewajibkan qadla (tidak kafarat)

Sebab membatalkan puasa menurut imam Syafi’i adalah masuknya sesuatu (makanan atau minuman) ke perut dengan beberapa persyaratan :

  1. Dilakukan atas dasar kesengajaan
  2. Mengetahui hukum keharaman hal tersebut
  3. Sampai ke lubang yang ada saluran ke perut dengan melalui lubang telinga, hidung, mulut, qubul atau dubur, ketentuan ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Daud :

ان النبي صلى الله عليه و سلم قال أسبغ الوضوء و خلل بين الأصابع و بالغ في الاستنشاق الا أن تكون صائما (رواه أبي داود)

Artinya: Nabi bersabda “sempurnakanlah wudlu, takhlil lah (memasukkan jari-jari tangan satu ke sela-sela jari tangan yang lain) jari-jarimu dan kuatkanlah menghirup air hidung , kecuali kamu dalam keadaan berpuasa” (HR. Abu Daud)

Puasanya orang yang junub tetap sah karena puasa tidak disyaratkan suci dari hadats besar dan karena bertendensi pada hadits yang diriwayatkan imam Ahmad :

حدثنا روح قال حدثني مالك عن عبيد الله بن عبد الرحمن بن معمر الأنصاري عن أبي يونس مولى عائشة عن عائشة أن رجلا قال لرسول الله صلى الله عليه و سلم و هو واقف على الباب يا رسول الله اني أصبح جنبا و أنا أريد الصيام ثم أغتسل فأصوم قال الرجل انك لست مثلنا انك قد غفرلك ما تقدم من ذنبك وما تأخر فغضب رسول الله صلى الله عليه و سلم و قال و الله اني لارجو أن أكون أخشاكم لله و أعلم بما أتقني (رواه أحمد)

Artinya: Aisyah meriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya pada Nabi ketika beliau sedang berdiri di pintu “ wahai Rosululloh, ketika bangun pagi saya dalam keadaan junub dan saya menghendaki berpuasa” Nabi berkata “ ketika bangun pagi saya dalam keadaan junub dan saya menghendaki berpuasa, kemudian saya mandi lalu berpuasa” laki-laki tadi berkata “ sesungguhnya Anda tidak seperti saya, anda telah melampaui semua dosanya masa yang akan datang dan masa yang telah lampau” seketika itu Nabi marah dan berkata “demi Allah saya berharap akan keberadaanku lebih takut pada Allah dari kalian dan lebih tau dengan apa yang harus aku jauhi” (HR. Imam Ahmad)

  • Versi Imam Hambali
  1. Jima’ di siang hari bulan Ramadlan secara mutlak (lewat jalan depan atau belakang, berakal atau tida, sengaja atau lupa, dipaksa atau tidak, mengetahui hukum keharaman atau tidak, menyetubuhi orang hidup, mati, atau hewan)
  2. Keluar spermanya perempuan karena berhubungan badan dengan sesama perempuan.
  • Tendensi dan Keterangan

            Menurut imam Hambali, jima’ di siang Ramadlan mewajibkan kafarat secara mutlak. Ketentuan ini karena Beliau memiliki beberapa alasan, yaitu:

  1. Walaupun jenis yang disetubuhi bermacam-macam sebagaimana di atas, akan tetapi semuanya tetap merupakan jima’ yang mewajibkan mandi, sehingga memiliki konsekuensi hukum yang sama dengan berhubungan badan.
  2. Di dalam hadits Nabi di atas tidak membedakan antara sengaja atau tidak, ihktiyar atau dipaksa

Qadla Puasa Ramadlan

Seorang yang mempunyai tanggungan qadla puasa Ramadlan baik ditinggalkan karena ada udzur atau tidak maka wajib mengqadla puasa tersebut di hari-hari yang diperbolehkan melakukan puasa sunnah

Hari-hari yang tidak diperbolehkan melakukan qadla puasa Ramadlan

  • Menurut imam Hanafi, Syafi’i, dan Hambali
  1. Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha
  2. Bulan Ramadlan
  3. Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah)
  • Menurut imam Maliki
  1. Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha
  2. Bulan Ramadlan
  3. Hari-hari yang telah ditentukan untuk berpuasa nadzar
  4. Hari tasyriq (11, 12 Dzulhijjah)

Hari hari dalam bulan Ramadlan merupakan hari-hari yang telah dihususkan untuk menunaikan puasa wajib bulan itu, tidak boleh untuk puasa selainnya, walaupun qadla puasa Ramadlan tahun lalu. Sehingga jika bulan Ramadlan digunakan untuk qadla puasa tahun lalu maka menurut imam Maliki, Syafi’i, dan Hambali, puasa tersebut tidak jadi untuk keduanya (puasa Ramadlan dan qadla), dan menurut imam Hanafi puasa tersebut menjadi puasa Ramadlan saat itu, dan qadla’nya tidak jadi, alasannya karena bulan Ramadlan tidak bisa digunakan puasa selain untuk kewajiban bulan itu.

Qadla puasa yang tertunda

  • Versi Imam Hanafi

Tanggungan puasanya seseorang yang tidak diqadla (ada udzur atau tidak) hingga datangnya bulan Ramadlan berikutnya masih tetap sebagaimana semula, yaitu wajib mengqadla sejumlah hari yang telah ditinggal. Imam Hanafi memiliki ketentuan demikian karena beliau lebih melihat pada kemutlakan Al Qur’an surat Al Baqoroh: 184 yang berbunyi:

فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من أيام اخر (البقرة : 184)

Artinya: “ maka barang siapa diantara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain” (QS. Al Baqoroh: 184)

Pada ayat di atas Allah hanya mewajibkan qadla puasa, tidak mewajibkan membayar fidyah

  • Versi imam Maliki, Syafi’i, dan Hambali

Tanggungan puasa seseorang yang tidak diqadla hingga datangnya Ramadlan berikutnya dengan tanpa adanya udzur maka disamping wajib mengqadla puasa yang ditinggalkan, dia wajib membayar fidyah. Pijakan ketentuan hukum ini adalah hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi:

ان النبي صلى الله عليه و سلم قال من أفطر في رمضان ثم لم يقض حتى جاء رمضان اخر صام الذي أدرك ثم قضى و أطعم عن كل يوم مسكينا (رواه البيهقي)

Artinya: Nabi SAW bersabda “ barang siapa yang memutuskan puasa di bulan Ramadlan dan tidak mengqadla sampai datangnya bulan Ramadlan berikutnya, maka dia wajib puasa untuk hari (Ramadlan) itu, kemudian baru puasa qadla dan memberi makanan setiap hari terhadap orang miskin”(HR. Baihaqi)

Pijakan imam Syafi’i dalam permasalahan wajibnya bayar fidyah karena mengakhirkan qadla puasa sampai datangnya bulan Ramadlan berikutnya adalah ijma’ ulama’, bukan dengna hadits dhoif di atas.

  • Versi Ibnu Abas, Ibnu Umar, dan Sa’id bin Zubair

Tanggungan puasanya seseorang yang tidak diqadla’ hingga datangnya bulan Ramadlan berikutnya maka kewajiban berubah menjadi bayar fidyah, bukan qadla puasa lagi. Tendensi mereka pada ketentuan ini adalah hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi yang berbunyi:

روى عن ابن عمر و ابن عباس و أبي هريرة أنهم قالوا اذا أقر القضاء حتى جاء رمضان اخر فعليه الكفارة (رواه البيهقي)

Artinya: diriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu Abas, dan Abu Huroiroh, mereka berkata “apabila tanggungan qadla puasa masih hidup tetap (belum dipenuhi) hingga datangnya bulan Ramadlan berikutnya, maka dia wajib membayar kafarat” (HR. Baihaqi)

  • Wanita hamil dan menyusui
  • Versi Imam Hanafi

Wanita hamil atau menyusui yang tidak puasa Ramadlan (baik karena mengkhawatirkan dirinya sendiri, atau bayinya atau bahkan keduanya), kewajibannya hanya mengqadla puasa . tersebut, tidak dengan membayar fidyah. Tendensi beliau adalah hadits Nabi yang berbunyi :

روى أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال ان الله وضع عن المسافر الصوم و شطر الصلاة و عن الحبلى و المرضع الصوم

Artinya : Diriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi bersabda : “Sesungguhnya Allah meringankan beban (tidak mewajibkan) dari musafir berpuasa dan separuh sholat, dan dari orang yang hamil dan menyusui berpuasa.

Pendapat Imam Auza’i, Zuhri dan Ats –Tsauri dalam permasalahan ini sama dengan pendapat Imam Hanafi.

  • Versi Imam Maliki

Wanita hamil yang tidak puasa Ramadlan, kewajbannya hanya mengqadla puasa tersebut, tidak dengan membayar fidyah, alasannya karena wanita yang hamil disamakan dengan orang yang sakit. Tendensi ketetapan hokum ini adalah firman Allah surat Al-Baqarah : 184 :

فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من ايام اخر (البقرة : 184)

Artinya : “Maka barang siapa diantara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang dtinggalkan itu pada hari-hari lain”. (QS. Al-Baqarah : 184)

Wanita yang sedang menyusui apabila tidak puasa Ramadlan, maka dia wajb mengqadla puasa dan membayar fidyah karena berdasarkan pada firman Allah surat Al-Baqarah : 184 yang berbunyi :

و على الذين يطيقونه فدية طعام مسكين (البقرة : 184)

Artinya : “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah (yaitu) : member makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah : 184)

Yang dimaksud dalam ayat tersebut menurut Imam Maliki adalah orang menyusui dan orang tua.

  • Versi Imam Syafi’i, dan Imam Hambali

Wanita hamil atau menyusui yang tidak puasa Ramadlan, wajib mengqadla puasa tersebut tanpa wajib membayar fidyah dengan catatan apabila faktornya mengkhawatirkan terhadap dirinya sendiri, atau mengkhawatirkan terhadap dirinya sendiri dan anaknya. Tendensi ketentuan ini adalah firman Allah surat Al-Baqarah : 184 yang berbunyi :

فمن كان منكم مريضا أو على سفر فعدة من ايام اخر (البقرة : 184)

Imam Syafi’i menyamakan wanita yang hamil dan menyusui dengan orang sakit, dan pada ayat diatas, orang yang sakit hanya kewajiban qadla puasa, tidak dengan membayar fidyah.

Jika faktor tidak puasanya wanita yang hamil atau menyusui murni karena mengkhawatirkan pada anak yang ada pada kandungan atau pada anak yang disusui, maka dia wajib qadla puasa tersebut dan membayar fidyah. Hal ini karena berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi dan Abu Daud :

روى عن ابن عباس و ابن عمر رضي الله عنهما أنهما قالا الحامل و المرضع اذا خافتا عن أولادهما أفطرتا و أطعمتا مكان كل يوم مسكينا (رواه البيهقي و ابو داود)

Artinya : Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa yang memutuskan puasa di bulan Ramadlan dan tidak mengqadlanya sampai datangnya bulan Ramadlan berikutnya, maka dia wajib puasa untuk hari (Ramadlan) itu, kemudian baru puasa qadla dan member makanan setiap hari terhadap orang miskin.” (HR. Baihaqi dan Abu Daud)

  • Puasa di hari yang diharamkan berpuasa

Semua hari diperbolehkan untuk menunaikan puasa kecuali hari yang telah dilarang untuk dipuasai oleh syara’.

Hari-hari yang diharamkan berpuasa versi Madzahib Al-Arba’ah

  • Versi Imam Hanafi
  1. Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha;
  2. Hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah);
  3. Hari syak (30 Sya’ban).

Dalil Imam Hanafi menentukan hari yang diharamkan puasa pada hari-hari diatas adalah hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi dan Daruqutni :

روى ابو هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن صيام ستة أيام يوم الفطر و يوم النحر و أيام التشريق و اليوم الذي يشك فيه أنه من شهر رمضان (رواه البيهقي و الدار قطني)

Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW melarang berpuasa enam hari : Hari raya Idul Fitri, hari raya kurban, hari-hari tasyriq dan hari yang masih diragukan sudah masuknya bulan Ramadlan. (HR. Baihaqi dan Daruqutni)

Di sebagian kutub al-salaf terdapat keterangan bahwa sebagian ulama berpendapat bahwa hokum puasa di harinya Idul Fitri, Idul Adha dan hari tasyriq adalah makruh tahrim.

  • Versi Imam Maliki
  1. Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha;
  2. Hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah).

Hukum haram puasa pada hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) berlaku bagi selain orang yang sedang melakukan haji tamattu’ dan haji qiran, sedangkan bagi keduanya tidak ada larangan. Tendensi Imam Maliki terhadap larangan puasa di hari-hari diatas sama dengan ulama lainnya, dan tendensi beliau atas diperbolehkannya puasa pada hari tasyriq bagi orang yang haji tamattu’ dan haji qiran adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori :

روى عن ابن عمر و عائشة أنها قالا لم يرحض في صوم أيام التشريق الا لمتمع لم يجد الهدي (رواه البخارى)

Artinya : Diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Aisyah bahwa mereka berdua berkata: “Tidak diperbolehkan puasa pada hari tasyriq kecuali bagi orang yang haji tamattu’ yang tidak menemukan hewan untuk membayar dam (denda sebab melakukan haji tamattu’).” (HR. Bukhori)

Menurut konsep Imam Maliki hari tasyriq hanya tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah beliau juga menyamakan haji tamattu’ dengan haji qiran karena keduanya sama-sama terbebani membayar denda.

  • Versi Imam Syafi’i
  1. Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha;
  2. Hari tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijjah)
  3. Hari syak (30 Sya’ban)

Dalil yang dibuat pijakan Imam Syafi’I atas keharaman berpuasa pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha adalah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Daud :

ان رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن صيام هذين اليومين اما يوم الاضحى فتأكلون من لحم نسككم و اما يوم الفطر ففطركم من صيامكم (رواه أبو داود)

 

Artinya : Sesungguhnya Rasulullah melarang berpuasa pada dua (hari Idul Fitri dan Idul Adha), untuk hari Idul Adha karena (waktunya) kamu memakan daging hewan qurban, sedangakn untuk hari Idul Fitri karena (waktunya) kamu berbuka dari puasamu. (HR. Abu Daud)

Dalil keharaman puasa pada hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi dan Daruqutni :

روى ابو هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن صيام ستة أيام يوم الفطر و يوم النحر و أيام التشريق و اليوم الذي يشك فيه أنه من شهر رمضان (رواه البيهقي و الدار قطني)

Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW melarang berpuasa enam hari : Hari raya Idul Fitri, hari raya kurban, hari-hari tasyriq dan hari yang masih diragukan sudah masuknya bulan Ramadlan. (HR. Baihaqi dan Daruqutni)

Ulama Syafi’iyyah berbada pendapat dalam masalah puasa di hari tasyriq bagi orang haji tamattu’ dan qiran yang tidak mempunyai hewan untuk membayar dam.

  • Menurut qaul qadim (pendapat Imam Syafi’I ketika di Baghdad) sah melakukan puasa. Tendensi ketentuan ini adalah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Baihaqi :

روى عن ابن عمر و عائشة أنها قالا لم يرحض في صوم أيام التشريق الا لمتمع لم يجد الهدي (رواه البخارى)

Artinya : Diriwayatakn dari Aisyah dan Ibnu Umar, mereka berdua berkata :”Nabi tidak memperbolehkan puasa pada hari tasyriq kecuali bagi orang yang haji tamattu’ dan dia tidak menemukan hewan untuk membayar dam.” (HR. Bukhori dan Baihaqi)

  • Menurut qaul jadid (pendapat Imam Syafi’i ketika di Mesir) tidak sah melakukan puasa. Tendesi ketentuan ini adalah hadits yang diriwayatkan Imam Baihaqi :

روى ابو هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن صيام ستة أيام يوم الفطر و يوم النحر و أيامالتشريق (رواه البيهقي و الدار قطني)

Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW melarang berpuasa enam hari : Hari raya Idul Fitri, hari raya kurban, hari-hari tasyriq. (HR. Baihaqi)

  • Hari Syak (30 Sya’ban)

Imam Syafi’i mengharamkan puasa pada hari syak (tanggal 30 Sya’ban yang terdapat keraguan telah masuknya bulan Ramadlan), berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Abu Daud dan Imam Tirmidzi :

روى عن عمار بن يسار أنه قال : من صام اليوم الذي يشك فيه أنه من رمضان فقد عصى أبا القاسم (رواه أبو داود و الترمذي)

Artinya : Diriwayatkan dari sahabat ‘Ammar bin Yasar, dia berkata : “Seseorang yang berpuasa di hari yang diragukan sudah masuknya bulan Ramadlan berarti dia tidak mematuhi kepada Abul Qasim (Nabi).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Dan berdasarkan pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim :

ان النبي صلى الله عليه و سلم قال : صوموا لرؤيته و أفطروا لرؤيته فان غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين يوما (متفق عليه)

Artinya : Sesungguhnya Nabi berkata : “Puasalah kalian karena melihat tanggal satu Ramadlan, dan berhari rayalah kamu karena melihat langit tanggal satu Syawal, apabila tanggal terhalangi awan, maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. Bukhori-Muslim)

  • Versi Imam Hambali

Hari yang diharamkan untuk berpuasa adalah :

  1. Hari raya Idul Fitri dan Idul Adha;
  2. Hari Tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah)

Dua hari raya haram untuk dipuasai karena berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Abu Daud :

ان رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن صيام هذين اليومين اما يوم الاضحى فتأكلون من لحم نسككم و اما يوم الفطر ففطركم من صيامكم (رواه أبو داود)

Artinya : Sesungguhnya Rasulullah melarang berpuasa pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), untuk Idul Adha karena (waktunya) memakan daging hewan qurban, sedangakan untuk hari Idul Fitri karena (waktunya) kamu berbuka dari puasamu. (HR. Abu Daud0

Diharamkannya puasa pada hari tasyriq karena berdasar pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berbunyi :

ان النبي صلى الله عليه و سلم قال : أيام التشريق أيام أكل و شرب (رواه مسلم)

Artinya : Sesungguhnya Nabi bersabda : “Hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari untuk makan dan minum.” (HR. Imam Muslim)

Sebagian ulama madzhab Hambali berpendapat kalau orang yang haji tamattu’ dan qiran dan dia tidak mampu mendapatkan hewan untuk membayar dam, maka diperbolehkan melakukan puasa pada hari tasyriq. Ketentuan ini bertendensi pada hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori :

روى عن ابن عمر و عائشة أنها قالا لم يرحض في صوم أيام التشريق الا لمتمع لم يجد الهدي (رواه البخارى)

Artinya : Diriwayatkan dari Ibnu Umar dan Aisyah bahwa mereka berdua berkata : “Tidak diperbolehkan puasa pada hari tasyriq kecuali bagi orang yang haji tamattu’ yang tidak menemukan hewan untuk membayar dam (denda sebab melakukan haji tamattu’).” (HR. Bukhori)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s