Uncategorized

Puasa (bagian 1)

 

56ff0d8d6e65bb58771f30b56f8ab55d           

Pengertian puasa menurut lughot adalah menjaga sedangakn menurut syara’ adalah mejaga diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar shodiq sampai terbenamnya matahari dengan beberapa syarat dan rukun yang telah ditentukan. Dasar kewajiban puasa ramadlan adalah firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 183 :

يا ايها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون (البقرة : 183)

Artinya : “ Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa (Ramadlan) sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa “ (QS. Al Baqoroh: 183).

Dan hadis nabi yang diriwayatkan oleh imam bukhori dan muslim

عن ابي هريرة قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما بارزا للناس فأتاه رجل فقال يا رسول الله ما الايمان قال أن تؤمن بالله و ملائكته و كتبه و رسله و لقائه و تؤمن بالبعث الاخر قال يا رسول الله ما الاسلام قال ان تعبد الله و لا تشرك به شيئا و تقيم الصلاة المكتوبة و تؤدي الزكاة المفروضة و تصوم رمضان (متفق عليه)

Artinya: dari sahabat Abi Hurairah beliau berkata: pada suatu hari Rosululloh berada di hadapan para sahabatnya, lalu datanglah seorang lelaki bertanya “ya Rasulallah, apakan iman itu?” Rasulullah menjawab “iman adalah beriman kepada Allah, para malaikat, kitab – kitab, para RasulNya, adanya hari kiamat, dan percaya adanya hari kebangkitan” lalu lelaki tersebut bertanya kembali “ya Rasulullah apakah islam itu?” Rasulullah menjawab “Islam adalah menyembah kepada Allah, tidak menyekutukanNya, mendirikan sholat lima waktu, mengeluarkan zakat, dan berpuasa di bulan Ramadlan” (HR. Bukhori Muslim)

Tuntunan untuk melakukan ibadah puasa, mulai diwajibkan bagi umat Islam setelah turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad pada tahun kedua dari hijrah, agar berpuasa pada bulan yang telah diterangkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi dari Abi Sa’id Al Khudri :

عن أبي سعيد الخدري قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم سيد الشهور رمضان سيد الشهور رمضان (رواه البيهقي)

Artinya: Dari Abi Sa’id Al Khudri, beliau berkata: Rosululloh bersabda “ yang paling utama diantara beberapa bulan adalah bulan Ramadhan”. (HR. Baihaqi)

  • Awal Masuknya Waktu Wajib Berpuasa

Puasa Ramadhan wajib dilaksanakan jika sudah memenuhi salah satu dari tiga sebab:

  1. Berakhirnya bulan Sya’ban (30 hari)
  2. Terlihatnya hilal (rembulan tanggal satu) Ramadlan
  3. Ditetapkannya hilal oleh imam berdasarkan kesaksian orang adil

hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhori :

صلى الله عليه وسلم قال صوموا لرؤيته و أفطروا لرؤيته فان غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين (رواه البخاري)

artinya: Nabi bersabda “berpuasalah kamu sekalian karena terlihatnya hilal (tanggal satu Ramadlan) dan berbukalah kamu sekalian karena terlihatnya hilal (tanggal satu Syawal). Apabila keadaanya mendung (hilal tidak terlihat), maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. (HR. Bukhori)

Dan perkataan Ibnu Umar yang diriwayaktan oleh imam Abu Daud:

قال ابن عمر أخبرت النبي صلى الله عليه أني رأيت الهلال فصام و أمر الناس بصيامه (رواه أبو داود)

Artinya: Ibnu Umar berkata “Aku memberikan kabar kepada Nabi bahwa aku telah melihat hilal (tanggal satu Ramadlan), lalu Nabi berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa” (HR. Abu Daud)

Syarat-Syarat Puasa

A. Versi Imam Hanafi

Menurut imam Hanafi, syarat-syarat puasa terbagi menjadi tiga, yaitu: syarat wajib puasa, syarat sah puasa, dan syarat wajib melakukan puasa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Syarat Wajib Puasa

  • Islam
  • Baligh
  • Berakal

Syarat sah puasa

  • Suci dari haidl dan nifas
  • Niat, waktu pelaksanaannya adalah mulai tenggelamnya matahari sampai sebelum tengah hari (dzuhur)

Syarat wajib melakukan puasa

  • Sehat dari semua penyakit
  • Iqomah (tidak dalam keadaan bepergian)

 

B. Versi Imam Maliki

Menurut imam Maliki, syarat-syarat puasa terbagi menjadi tiga, yaitu: syarat wajib, syarat sah, dan syarat wajib dan sah. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Syarat wajib puasa

  • Baligh
  • Mampu melakukan puasa

 

Syarat sah puasa

  • Islam
  • Niat
  • Dilakukan pada hari yang sah untuk berpuasa

Syarat wajib dan sah nya puasa

  • Berakal
  • Suci dari haidl dan nifas
  • Sudah masuk bulan Ramadlan

 

C. Versi Imam Syafi’i

Menurut imam Syafi’i, syarat-syarat puasa dibagi menjadi dua, yaitu: syarat wajib dan syarat sah puasa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Syarat wajib puasa

  • Islam
  • Baligh
  • Berakal
  • Mampu melaksanakan puasa, (baik ditinjau dari sudut pandang syara’ seperti suci dari haidl dan nifas, atau kondisi fisik semisal sehat, belum lanjut usia)

Syarat sah puasa

  • Islam
  • Tamyiz (dapat membedakan hal yang baik dan buruk)
  • Suci dari haidl dan nifas
  • Dilakukan pada hari yang sah untuk berpuasa

 

D. Versi imam Hambali

Menurut Imam Hambali, syarat-syarat puasa terbagi menjadi tiga, yaitu: syarat wajib, syarat sah, dan syarat wajib dan sah puasa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Syarat wajib puasa

  • Islam
  • Baligh
  • Mampu melaksanakan puasa

Syarat sah puasa

  • Niat
  • Suci dari haidl dan nifas

Syarat wajib dan sah puasa

  • Islam
  • Berakal
  • Tamyiz

 

Tendensi Hukum

  • Islam

Diwjibkannya berpuasa bagi orang Islam, berdasarkan firman Allah surat Al Baqoroh 183:

يا ايها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون (البقرة : 183)

Artinya: “ wahai orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas umat sembelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al Baqoroh 183)

  • Baligh dan Berakal

      Diwajibkan berpuasa bagi orang yang baligh dan berakal adalah berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh imam Abu Daud :

قال النبي صلى الله عليه و سلم رفع القلم عن ثلاثين عن الصبي حتي يبلغ و عن النائم حتى يستيقظ و عن المجنون حتى يفيق (رواه ابوداود)

Artinya: “Nabi bersabda: “ tiga golongan yang tidak terbeban hukum adalah anak kecil hingga dewasa, orang tidur hingga bangun dan orang gila hingga sembuh” (HR. Abu Daud)

  • Mampu Berpuasa

Kewajiban melaksanakan puasa Ramadlan diperuntukkan bagi orang-orang yang mampu untuk melaksanakannya saja. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al Baqoroh 286:

قال الله تعلى لا يكلف الله نفسا الا وسعها (البقرة : 286)

Artinya: “ Allah tidak mewajibkan sesuatu kepada seseorang kecuali atas apa yang dimampuninya” (QS. Al Baqoroh: 286)

  • Orang yang lanjut usia

      Imam Hanafi, Syafi’i, Auza’i, dan Assauri berpendapat bahwa: bagi orang yang tidak mampu berpuasa karena disebabkan lansia, boleh untuk tidak berpuasa dan juga tidak berkewajiban untuk mengqodlo’nya, namum ia wajib untuk membayar fidyah (denda). Hal ini berdasarkan firman Allah surat Al Baqoroh: 184

قال الله تعلى و على الذين يطيقونه فدية طعام مسكين (البقرة : 184)

Artinya: dan atas orang yang mampu berpuasa boleh untuk mengganti puasannya dengan mengeluarkan fidyah yaitu memberikan makanan pada orang-orang miskin. (QS. Al Baqoroh: 184)

Intreprestasi ayat di atas menerangkan bahwa pada masa awal berlakunya puasa, itu belum sepenuhnya diwajibkan, melainkan umat islam masih diperkenankan untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah (denda) berupa memberikan makanan sebanyak satu mud (6 ons) kepada orang miskin, meskipun ia mampu untuk melaksanakan puasa. Namun kemudian Allah menyalin hukum tersebut dengan menurunkan wahyu berupa ayat setelahnya yang berbunyi :

فمن شهد منكم الشهر فليصمه و من كان مريضا أو على سفر فعدة من ايام اخر يريد الله بكم اليسر ولا يريد بكم العسر (البقرة : 185)

Artinya: Barangsiapa diantara kalian telah menyaksikan masuknya bulan Ramadlan maka harus berpuasa, sedangkan orang yang dalam kondisi sakit atau dalam perjalannya maka boleh melaksanakannya di lain hari. Allah menghendaki kemudahan bagi kamu sekalian dan tidak mempersulit kalian. (QS. Al Baqoroh: 185)

Yang menegaskan akan kewajiban berpuasa bagi orang-orang yang mampu untuk melaksanakannya (sehat, kuat, dan muqim), sedangkan apabila tidak mampu, maka boleh untuk melaksankannya di lain waktu seperti orang yang sakit atau dalam keadaan bepergian jauh (musafir) atau bahkan tidak berkewajiban puasa sama sekali, namun harus membayar fidyah seperti orang yang tidak mampu berpuasa karena disebabkan faktor lansia. Hal ini merupaka salah satu bentuk kemurahan yang diberikan oleh Allah kepada umatNya.

Imam Maliki dan Abu Tsaur berpendapat bahwa orang yang sudah lansia, tidak wajib berpuasa juga tidak wajib membayar denda, karena menurut beliau berdua orang yang sudah tidak diwajibkan berpuasa oleh syara’ itu tidak diwajibkan pula untuk membayar denda. Dan termasuk dalam kategori ini, adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut. Sebagaimana tidak wajibnya berpuasa dan tidak wajibnya membayar denda bagi anak kecil atau orang gila.

      Imam Hambali berpendapat bahwa orang yang sudah lansia tidak wajib berpuasa namun ia berkewajiban untuk membayar fidyah. Dan menurut Beliau, kewajiban membayar denda itu hanya dibebankan kepada orang yang mampu membayar saja, sedangkan apabila tidak mampu, maka kewajiban membayar fidyah pun gugur baginya. Tendensi keterangan Beliau adalah firman Allah dalam surat Al Baqarah: 286 :

قال الله تعلى لا يكلف الله نفسا الا وسعها (البقرة : 286)

Artinya: Allah berfirman: “Allah tidak mewajibkan sesuatu kepada seseorang kecuali atas apa yang dilampauinya” (QS. Al Baqarah: 286)

  • Suci dari Haidl dan Nifas

Keharusan untuk dalam kondisi suci dari haidl dan nifas bagi orang yang berpuasa adalah berdasarkan Hadits Nabi yang diriwatkan oleh imam Bukhori dan Abu Sa’id :

عن أبي سعيد رضي الله عنه قال قال النبي صلى الله عليه وسلم أليس اذا حاضت لن تصل و لم تصم فذالك نقصان دينها (رواه البخارى)

Artinya: Dari Abu Sa’id RA. Beliau berkata Nabi SAW bersabda: “bukankah seorang perempuan ketika haidl tidak diperbolehkan melaksanakan sholat dan puasa?. Maka yang demikian itu, merupakan suatu kekurangan yang ada pada agama mereka. (HR. Bukhori)

  • Iqomah (bukan musafir)

Termasuk salah satu dari syarat wajibnya puasa adalah bermuqim (menetap di suatu tempat), tidak berada dalam perjalanan (musafir). Sedangkan hukum berpuasa bagi orang-orang yang dalam perjalanan, itu tidak wajib dalam arti bagi para musafir diperbolehkan untuk tidak berpuasa pada bulan ramadlan dan melaksanakannya di lain waktu selain bulan ramadlan. Tendensi keterangnan ini adalah firman Allah surat Al Baqoroh: 184:

قال الله تعلى فمن كان منكم مريضا او على سفر فعدة من ايام اخر (البقرة : 184)

Artinya: barangsiapa diantara kalian sedang dalam kondisi sakit atau melakukan perjalanan, maka boleh untuk melaksakannya di lain hari. (QS. Al Baqarah: 184)

Dan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh imam bukhori muslim dan Aisyah RA:

عن عائشة رضي الله عنها أن حمزة بن عمر الأسلامى قال للنبي صلى الله عليه و سلم أأصوم في السفر و كان كثير الصيام فقال ان شئت فصم و ان شئت فأفطر (متفق علية)

Artinya: dari Siti Aisyah RA. Bahwasannya sahabat Hamzah bin Umar Al Islami (beliau merupakan sahabat nabi yang gemar puasa) bertanya kepada Rosululloh “ apakah aku harus berpuasa di dalam perjalanan?” Nabi menjawab “ jika kamu menghendakinya maka berpuasalah, dan jika tidak, maka berbukalah” (HR. Bukhori Muslim)

Dan hadits yang diriwayatkan oleh imam bukhori dari sahabat Anas RA:

روي عن أنس رضي الله عنه أنه قال سافرنا مع رسول الله صلى الله عليه و سلم فمنا من صام و منا من أفطر فلم يعب الصائم على المفطر على الصائم (رواه البخارى)

Artinya: diriwayatkan dari sahabat anas bin Malik RA. Beliau berkata “ kami pernah menempuh perjalanan bersama Rosululloh, lalu di atara kami ada yang erpuasa dan ada yang tidak berpuasa. Dan para sahabatyang berpuasa tidaklah mencela kepada para sahabat yang tidak berpuasa begitu juga sahabat yang tidak bepuasa tidaklah mencela kepada para sahabat yang berpuasa. (HR. Bukhori)

Jarak perjalanan yang memperbolehkan untuk tidak berpuasa

      Dari dalil-dalil yang telah disebutkan tadi atau dan yang semakna, para ulama’ sepakat, bahwa orang yang sedang dalam perjalanan itu tidak berkewajiban melakukan puasa pada saati itu. Namun di antara madzahibul arba’ah masih ada perbedaan pendapat, dalam menentukan kriteria perjalanan yang tidak mewajibkan berpuasa, berikut adalah keterangan mengenai kriterianya:

  • Versi imam Hanafi

Beliau berpendapat bahwa perjalanan yang tidak mewajibkan berpuasa itu harus mencapai jarak tempuh tiga marhalah (243 KM)

  • Versi imam Maliki, Syafi’i, dan Hambali

Ketiganya berpendapat bahwa perjalanan yang memperbolehan seorang tidak berpuasa adalah ketika mencapai jarak tempuh 2 marhalah (81 KM)

Meskipun tidak ada kewajiban melaksanakan puasa dalam perjalanan, para ulama’ sepakat bahwa bagi musafir itu tetap diperkenanakna dan sah untuk berpuasa. Kecuali menurut abu Huroiroh, daun Ad Dhohiri, golongan syi’ah dan rofidhoh, yang menyatakan bahwa puasanya seorang musafir itu tidak sah.

  • Keutamaan bagi Musafir

Dalam menentukan mana yang lebih utama bagi musafir, antara berpuasa dan tidak berpuasa, itu ternyata masih ada khilaf di kalangan para ulama’. Yaitu : menurut imam Hanafi, Maliki, dan Syafi’i, yang lebih utama adalah tetap berpuasa jika mampu dan tidak masyaqot (berat). Menurut imam Hambali, Auza’i dan Abu Ishaq, yang lebih utama adalah tidak berpusa. Sedangkan apabila menimbulkan masyaqot, maka ulama’ sepakat bahwa yang lebih utama adalah tidak berpuasa. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhori:

عن جابر قال كان رسول الله صلى الله في سفر فرأى رجلا قد اجتمع الناس عليه و قد ظلل عليه فقال ما له قالوا رجل صائم فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ليس من البر أن تصوموا في السفر (رواه البخارى)

Artinya: dari sahabat Jabir, Beliau berkata: ketika Rosululloh melakukan safar, beliau melihat seorang lelaki yang sedang dikerumuni oleh orang banyak di tempat yang teduh, lalu Rosululloh bertanya “ ada apa dengannya?” mereka menjawab “ Dia berpuasa “. Kemudian Rosululloh bersabda “ tidaklah baik melakukan puasa dalam perjalanan” (HR. Bukhori)

  • Niat

Imam madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) sepakat bahwa puasa itu harus dilakukan dengan adanya niat. Tendensinya adalah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari-Muslim :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم إنّما الأعمال بالنّية وإنّما لأمرئ ما نوى (رواه البخاري و مسلم)

Artinya : Rasulullah bersabda: sesungguhnya keabsahan daripada amal ibadah, itu ditentukan dengann adanya niat. Dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuatu yang dia niati. (HR. Bukhori-Muslim)

Namun, ada segolongan ulama seperti Imam Atho’, Imam Mujahid, dan Imam Zufar (pengikut madzhab hanafi) yang menyatakan bahwa niat puasa itu tidak wajib, dengan catatan :

– Puasa yang dilaksanakan berupa puasa fardlu (contoh Ramadlan)

– Dalam kondisi sehat, dan tidak sedang bepergian.

  • Tata Cara Niat
  • Versi Imam Hanafi

Menurut beliau, niat bukan termasuk rukun puasa, namun merupakan syarat sahnya berpuasa. Karena menurut beliau rukun puasa itu hanya satu, yakni menghindari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Berikut ini merupakan hal-hal yang harus diperhatikan dalam niat :

  • Niat puasa harus dilaksanakan tiap hari
  • Tidak harus menta’yin (menentukan jenis puasanya) semisal puasa ramadlan, nadzar.
  • Pelaksanaan niat harus dilakukan pada waktu antara setelah terbenamnya matahari dan sebelum masuknya waktu tengah hari atau dzuhur. Namun yang lebih utama adalah melaksanakan niat di malam hari.

Ketiga hal tersebut merupakan ketentuan-ketentuan (kewajiban) niata yang berkaitan dengan puasa ramadlan, nadzar niat puasa yang telah ditentukan harinya, dan puasa sunnah. Sedangkan untuk puasa qodlo, puasa yang tidak ditentukan harinya, dan puasa kafarat, maka yang wajib adalah :

  • Niat dilasanakan pada malam hari
  • Menta’yin (menentukan jenis puasanya).

 

Tendensi dan Keterangan :

Imam Hanafi menyatakan bahwa niat itu tidak harus dilaksanakan pada malam hari, melainkan di pagi haripun boleh dan sah. Tendensi beliau adalah hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah :

عن عائشة أمّ المؤمنين قالت دخل عليّ النّبي صلى الله عليه وسلّم ذات يوم فقال هل عندكم شيئ فقلنا لا قال فإنّي إذن صائم ثمّ أتانا يوما آخر فقلنا يا رسول الله أهدي لنا حيس فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما فأكل (رواه المسلم)

Artinya : Diriwayatkan dari Aisyah, Ia berkata : “Pada suatu hari Nabi SAW datang menemuiku, Beliau bersabda : “Apakah kamu mempunyai sesuatu (untuk dimakan) ?” Aku (Aisyah) menjawab ; “Tidak” lalu Beliau berkata : “Kalau begitu, aku akan berpuasa”. Kemudian di lain hari, Beliau mendatangiku lagi, dan Aku berkata : “Wahai Rasulullah, seseorang telah menghadiahkan makanan kepadaku” Beliau menjawab : “Bawalah kemari” sembari berkata “Sebenarnya tadi pagi aku telah berpuasa”, lalu Beliau memakan makanan hadiah tersebut. (HR. Muslim)

Dan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori :

عن سلمة بن الأكوع رضي الله عنه قال أمر النّبي صلى الله عليه وسلم رجلا من أسلم أن أذن فى النّاس أن من كان أكل فليصمه بقية يومه ومن لم يكن أكل فليصمه (رواه البخاري)

Artinya : Diriwayatkan dari Salamah bin Akwa’ RA, beliau berkata : Nabi pernah memerintahkan pada seorang lelaki dari kabilah Aslam untuk mengumumkan bahwa bagi seseorang yang telah makan (pada pagi hari ini), maka hendaknya berpuasa pada waktu yang tersisa (dari hari ini), sedangkan bagi yang belum makan, maka hendaknya berpuasa. (HR. Bukhori)

Interpretasi dua hadits tersebut menunjukkan bahwa niat puasa tidak harus dilaksanakan pada malam hari, karena seandainya tidak boleh, maka sudah semestinya nabi tidak akan melaksanakan puasa, sebab beliau belum berniat puasa pada malam harinya. Selain itu, kedua hadits tersebut juga tidak mungkin untuk dita’wil (diarahkan) pada makna lain. Sedangkan dalam menyikapi bebrapa hadits dibawah ini :

لا صيام لمن لم ينو الصيام من الليل

Artinya : “Tidak dianggap berpuasa bagi orang yang tidak melakukan niat pada malam harinya”.

من لم يجمع قبل الفجر فلا صيام له

Artinya : “Seseorang yang tidak melakukan niat sebelum fajar, maka ia tidak dianggap berpuasa”.

من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له (رواه ابو داود)

Artinya : “Seseorang yang tidak memalamkan (melaksnakan) niat sebelum fajar, maka ia tidak dianggap berpuasa”. (HR. Abu Daud)

Imam Hanafi berperspektif bahwa yang dinafikan (ditiadakan) oleh huruf لا (la) pada lafad لا صيام tersebut adalah keutamaan puasa bukan keabsahan puasanya, sebagaimana tidak didapatkannya keutamaan wudlu dalam hadits Nabi yang berbunyi :

لا وضوء لمن لم يسم

Artinya : “Tidak mendapatkan keutamaan wudlu bagi seorang yang tidak membaca basmalah”.

Sedangkan untuk hadits kedua, beliau berkomentar bahwa haditsnya adalah hadits mauquf, bukan hadits marfu’ (hadits yang riwayatnya sampai kepada Nabi SAW). Karena menurut beliau hadits tersebut dalam periwayatannya hanya sampai pada Siti Hafsah. Dan untuk hadits ketiga ((من لم يبيت, beliau berkomentar bahwa diantara para rawi (periwayat) hadits tersebut, ada yang kurang masyhur yaitu Abdullah bin Abad, bahkan menurut Ibnu Hibban bahwa Abdullah bin Abad seringkali membolak-balikkan sebuah hadits. Selain itu dalam hadits tersebut juga ada perawi bernama Yahya bin Ayyubyang oleh para ahli hadits dianggap sebagai perawi yang tidak kuat.

  • Versi Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali

Syarat puasa menurut tiga madzhab ini harus adanya niat dan penentuan puasa (ta’yin), seperti puasa ramadlan, puasa nadzar atau yang lainnya, dan syarat niat dalam puasa fardlu harus dilakukan ketika malam hari karena berdasarkan hadits nabi yanag diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim :

ان النّبي صلى الله عليه وسلم قال إنّما الأعمال بالنّيات وإنّما لكل امرء ما نوى (متفق عليه)

Artinya : Nabi bersabda “Sesungguhnya sahnya amal tergantung pada niat, dan seseorang akan mendapatkan atas apa yang ia niati”. (HR. Bukhori-Muslim)

Dan berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Abu Daud yang berbunyi :

ان النّبي صلى الله عليه وسلم قال من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له (رواه ابو داود)

Artinya : Nabi bersabda: “Barangsiapa yang tidak niat puasa ketika malam harinya, maka ada hukum puasa baginya”. (HR. Abu Daud)

Niat dalam puasa sunnah tidak diisyaratkan harus malam hari, tetapi boleh pada siang harinya. Pendapat ini bertendesi pada hadits nabi yang diriwayatkan Imam muslim dari Siti Aisyah yang berbunyi :

عن عائشة أمّ المؤمنين قالت دخل عليّ النّبي صلى الله عليه وسلّم ذات يوم فقال هل عندكم شيئ فقلنا لا قال فإنّي إذن صائم ثمّ أتانا يوما آخر فقلنا يا رسول الله أهدي لنا حيس فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما فأكل (رواه المسلم)

Artinya : Diriwayatkan dari Aisyah, Ia berkata : “Pada suatu hari Nabi SAW datang menemuiku, Beliau bersabda : “Apakah kamu mempunyai sesuatu (untuk dimakan) ?” Aku (Aisyah) menjawab ; “Tidak” lalu Beliau berkata : “Kalau begitu, aku akan berpuasa”. Kemudian di lain hari, Beliau mendatangiku lagi, dan Aku berkata : “Wahai Rasulullah, seseorang telah menghadiahkan makanan kepadaku” Beliau menjawab : “Bawalah kemari” sembari berkata “Sebenarnya tadi pagi aku telah berpuasa”, lalu Beliau memakan makanan hadiah tersebut. (HR. Muslim)

  • Versi Imam Malik

Niat pada puasa fardlu yang disyaratkan terus-menerus (tatabu’), seperti puasa Ramadlan, puasa kafarat udzma (karena bersetubuhnya orang yang sedang berpuasa di siang hari pada bulan Ramadlan) cukup satu kali pada hari yang pertama, sedangkan niat puasa beriktnya dianggap cukup dengan adanya niat puasa pada hari yang pertama tadi. Dalam hal ini, sebagian madzhab Hanabilah ada yang sependapat dengan konsepnya Malikiyah, yaitu niat puasa Ramadlan cukup satu kali pada hari pertama, alasannya karena hari-hari dalam bulan Ramadlan dihukumi satu rangkaian ibadah yang konsekuensi hukumnya satu niat cukup untuk hari-hari berikutnya.

Niat puasa fardlu yang tidak disyaratkan terus-menerus, seperti puasa qodlo’ Ramadlan, kafarat sumpah, wajib dilakukan pada setiap malamnya (tidak cukup satu kali). Madzahib Al-Arba’ah sepakat bahwa orang yang junub diperbolehkan berpuasa. Dalil yang beliau jadikan tendensi adalah hadits yang berdasarkan pada hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori :

ان النّبي صلى الله عليه وسلم كان يصبح جنبا من جماع لا احتلام ثم يغسل ويصوم (رواه البخاري)

Artinya : “Sesungguhnya Nabi ketika pagi dalam kondisi junub karena jima’, bukan karena mimpi keluar mani, kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa”. (HR. Bukhori)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s