Uncategorized

Akad Qardhu (Hutang Piutang)

8.1 Pengertian Hutang

Islam mengatur hubungan yang kuat antara akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Aspek muamalah merupakan aturan main bagi manusia dalam menjalankan kehudupan sosial, sekaligus merupakan dasar untuk membangun system ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Muamalah akan menahan manusia dari keinginan menghalalkan segala cara untuk meraih rezeki. Muamalah mengajarkan manusia memperoleh rezeki dengan cara yang halal dan baik.

Dalam khazanah ilmu fiqh, pinjam-meminjam uang secara kebahasaan berasal dari kata qardhu yang berarti hutang-piutang. Dalam pengertian yang umum, hutang-piutang mencakup transaksi jual beli dan sewa menyewa yang dilakukan secara tidak tunai. Pemahaman masyarakat tentang hutang pitang dan pinjam meminjam sangat bervariasi.

Pengertian hutang secara etimologis (lughat) berasal dari kata قرض (qaradha) yang sinonimnya adalah kata قطع (qatha’a) yang bermakna memotong. Diartikan demikian, karena orang yang memberikan hutang memotong sebagian dari hartanya untuk diberikan kepada muqtaridh (orang yang menerima hutang).

Sementara itu, para ulama mazhahib al-arba’ah memberikan pengertian yang berbeda-beda tentang qardhu secara terminologis (istilah syara’) dengan keterangan sebagai berikut.

8.1.1 Versi Imam Hanafi

Qardhu (hutang piutang) adalah sejumlah mal mitsli (harta benda yang memiliki persamaan) kepada orang lain yang membutuhkan untuk kemudian dikembalikan persis seperti yang ia terima. Akad seperti ini juga biasa disebut qiradh.

Keterangan:

  • Dalam akad qiradh, barang yang dihutangkan harus berupa mitsli (memiliki persamaan), yakni suatu harta benda yangn satuannya memiliki persamaan harga dengan benda sejenis. Hal-hal yang tergolong mitsli adalah barang yang biasanya dihitung (al-ma’dudat), ditakar (al-makilat), dan yang biasa ditimbang (al-mauzunat).
  • Harta benda yang tidak tergolong mitsli seperti hewan, tanah, dan lainnya, atau barang-barang yang biasanya dihutang, hanya saja besar kecilnya tidak sama, sehingga berpengaruh terhadap harga, seperti buah-buahan dan lainnya. Semua benda tersebut tidak sah untuk dihutangkan. Apabila terjadi akad qardhu (hutang piutang) terhadap barang-barang itu, maka huku transaksi hutang piutang tersebut rusak (haram), namun barang yang telah diterima oleh muqtaridh bisa ia miliki, karena rusaknya akad hutang piutang itu hanya berlaku untuk transaksinya, bukan pengalihan haknya.

8.1.2 Versi Imam Maliki

Qardhu (akad hutan gpiutang) adalah memberikan sesuatu yang berupa uang atau barang yang memiliki harga kepada orang lain dengan niat yang tulus, yang harus dikembalikan pada waktu orang yang berhutang memiliki sejumlah harta yang ia terima.

Keterangan:

  • Dari definisi qardhu diatas, pendapat imam Maliki bisa diterjemahkan sebagai berikut.
  1. Harta benda yang dihutangkan, harus memiliki nilai, seperti uang, beras, jagung, kedelai, minyak, dan lainnya. Sehingga, mengecualikan harta benda yang pada umumnya (urfinnas) tidak memiliki nilai, seperti menghutangkan korek api untuk menyalakan rokok, lilin, kayu bakar, dan lainnnya.
  2. Dibarengi dengna niat yang tulus (mahdli at-tafadlul), yakni tidak berharap keuntungan duniawi. Sehingga mengecualikan riba, seperti seorang yang menghutangkan uang sejumlah Rp. 100.000,- berharap dikembalikan sebesar Rp. 150.000,-
  3. Hutang piutang (Qardhu) bukanlah pinjam meminjam (ariyah), karena pinjam meminjam tidak bisa dikategorikan hutang.
  4. Orang yang menghutangi (muqridh) berharap pelunasan (pengembalian hutang) dari orang yang dihutangi (muqtaridh) jika kelak memiliki sejumlah harta yang dihutang. Jadi akad ini, mengecualikan akad hibah (pemberian) dan sedekah, karena pihak penerima hibah tidak wajib mengembalikan barang yang diterimanya.
  5. Harta benda yang dikembalikan oran yang berhutang (muqtaridh) harus sesuai (sejenis) dengan yang ia terima dari orang yang menghutangi (muqridh). Jadi akad ini tidak meliputi akad salam (pesan barang), karena ra’sul mal (alat pembayaran) tidak sama dengna barang yang dipesan (muslam fih).
  • Imam Maliki berpendapat, bahwa setiap barang yang sah untuk akad salam, maka sah pual dilakukan untuk akad hutan gpiutang, baik harta yang diperdagangkan (urudl tijarah) berupa hewan, benda yang diproses dengan pemanasan, ditimbang, atau dihitung.

8.1.3 Versi Imam Syafi’i dan Hambali

Imam Syafii dan Hambali berpendapat, bahwa qardhu menurut istilah syara’ adalah memberikansesuatu keepada orang lain yang membutuhkan, dengan perjanjian barang tersebut dikembalkan kepada orang yang menghutangi (muqridh) ketika telah memiliki sejumalh harta benda yang sesuai dengan yang ia terima.[1]

 

 

8.1 Dasar Hukum Qardhu (Hutang Piutang)

Akad qardhu (hutang piutang) yang telah disyari’atkan oleh agama Islam berdasarkan beberapa dalil nash berikut.

8.2.1 Al-Qur’an

Firman Allah SWT dalam surat al-maidah ayat 02:

وَتضعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ (المائدُة : 2)

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 245:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللهَ قَرْضَا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيْرَةً وَالله يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ (البقرة : 245)

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah)? Maka Allah akan melipat gandakan imbalan kepadanya degnan kelipatan yang banyak. Dan Allah bisa menyepitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

8.2.2 Hadits

Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh imam Muslim:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَاتضفَّسَ اللهُ عَيْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَرِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِوَالله فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوءنِ أَخِيْهِ (رواه المسلم)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menghilangkan salah satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan kelak di hari kiamat. Dan barang siapa mempermudah orang miskin, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Dan barang siapa menutupi (aib) orang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba (tersebut) menolong saudaranya (HR. Muslim)

Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah:

عَنْ ابْتِ مَسْعُوْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلاَّ كَانَ كَصَدَقَبِهَا مضرَّةً (رواه ابن ماجة)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Seseorang muslimyang menghutangi muslim lain sebanyak dua kali itu seperti (pahala) sedekah satu kali”.

Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oileh imam Ibnu Majah dan Baihaqi:

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَوَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوْبًا الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ فَقُلْتُ يَا جِبْرِيْلُ مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِيْ الصَّدَقَةِ قَالَ لِأَنَّ السَّائِلُ وَ عِنْدَهُ وَالْمُسْتَقْرِضُ لاَ يَسْتَقْرِضُ إِلاَّ مِنْ حَاجَةٍ (رواه ابن ماجه والبيهقي)

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ketika saya diisra’kan, aku melihat di atas pintu surga tertulis: “sekali bersedekah (akan dibalas) dengan sepuluh kali lipat dan sekali menghutangi (dibalas) dengan delapan belas (kali lipatnya).” Kemudian aku bertanya, “Wahai malaikat Jibril, mengapa menghutangi itu lebih utama daripada sedekah?” Jibril menjawab, “Karena seorang peminta akan meminta (sesuatu), sementara ia masih memiliki sejumlah harta penda. Sedangkan orang yang berhutang, ia tidak akan berhutang kecuali ia sangat membutuhkan. (HR. Ibnu Majah)

Keterangan:

  • Keterangan yang menyatakan bahwa pahala menghutangi lebih banyak daripada pahala sedekah pada hakikatnya tidak benar. Yang tepat aalah bahwa pahala sedekah lebih banyak dari pada pahala menghutangi.
  • Pendapat ulama yang menyatakan bahwa pahala menghutangi lebih banyak daripada sedekah itu didasari logika bahwa orang yang hutang bisa dipastikan sangat membutuhkannya, sedangkan orang yang menerima sedekah kadang termasuk orang kaya (tidak membutuhkan).

8.3 Hukum Qardhu (Hutang Piutang)

Pada dasarnya hukum qardhu (hutang piutang) adalah sunnah mu’akkadah, dengan tidak memandang dan membedakan antara muslim dan non muslim sebagai pihak yang dihutangi, karena tujuan qardhu adalah untuk menolong, berbelas kasihan, dan berbuat baik, yang telah dianjurkan oleh syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW.

Hukum qardhu yang semula sunnah muakkadah bisa berubah dan berlaku salah satu dar lima hukum, dengan keterangan sebagai berikut.

  1. Wajib, apabila muqtaridh (orang yang berhutang) dalam keadaan sangat membutuhkan (darurat) dan tidak menggunakannya untuk hal-hal yang bertentangan dengna syari’at Islam.
  2. Haram, apabila menghutangkan sesuatu kepada orang lain yang hendak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan dengan syara’, seperti untuk membeli minuman keras, makanan haram, dan perbuatan maksiat lainnya.
  3. Sunnah, apabilamenghutangkan sesuatu kepada orang lain yang hendak melakukan kebaikan, baik yang kembali pada diri sendiri, keluarga, kerabat dekat, kerabat jauh atau orang lain.
  4. Makruh, apabila menghutangkan sesuatu kepada orang lain yang hendak melakukan perbuatan makruh, seperti untuk membeli rokok, dan hal-hal lain yang hukunya makruh.
  5. Mubah, apabila menghutangkan sesuatu kepada orang lain yang tidak membutuhkan, seperti menghutangi orang kaya dan semisalnya.[2]

8.4 Rukun dan Syarat Qardhu

Rukun adalah sesuatu yang harus ada di setiap transaksi, tak terkecuali dalam akad qardhu (hutang piutang), dan rukun merupakan penentu hukum sah atau tidaknya sebuah transaksi. Rukun qardhu (akad hutang piutang) adalah sebagai berikut.

  1. Orang yang menghutangi (muqridh).
  2. Orang yang berhutang (muqtaridh).
  3. Barang yang dihutangi (muqradh).
  4. Ijab dan qabul (sighat).

8.4.1 Orang yang Menghutangi (Muqridh)

Syarat bagi orang yang boleh menghutangkan harta bendanya kepada orang lain, adalah:

  1. Orang tersebut memiliki hak mentasharufkan (membelanjakan) hartanya (ja’izut tasharruf), yaitu beakal sehat, telah baligh, dan memiliki harta. Sehingga tidak sah bagi orang yang tidak berakal sehat, belum balgih, dan tidak memiliki harta untuk atau mentasharrufkan hartanya untuk piutang atau lainnya;
  2. Orang tersebut tidak sedang dibatasi oleh syara’ (ahlan lit-tabarru’), yakni diizini oleh syara’ dalam menggunakan hartanya. Sehinggatidak sah bagi orang tua (wali) atau pemerintah setempat untuk menggunakan harta benda milik anak yang masih kecil yang diasuhnya untuk dihutangkan karena anak tersebut masih dilarang menggunakan hartanya (mahjur alaih) sampai dia dianggap cukup dewasa untuk itu.

8.4.2 Orang yang Berhutang (Muqtaridh)

Syarat bagi orang yang akan berhutang kepada orang lain adalah:

  1. Boleh menggunakan atau mentasharrufkan harta benda yang dihutang (ja’izut tasharruf), yakni baligh dan berakal. Sehingga, tidak sah berhutang bagi orang yang belum baligh atau orang yang tidak berakal sehat;
  2. Tidak dipaksa oleh orang lain (ikhtiyar). Sehingga tidak sah berhutang bagi orang yang dipaksa orang lain.

8.4.3 Barang yang Dihutang (Muqradh)

Harta benda yang akan dihutangkan kepada orang lain harus memenuhi beberapa syarat. Berikut adalah pendapat ulama madzahib al-arba’ah mengenai hal tersebut.

8.4.3.1 Versi Imam Hanafi

Barang yang sah dihutangkan merupakan harta benda yang memiliki persamaan (mal mitsli) dengan sekra harganya tidak berbeda-beda dalam satuannya, baik barang tersebut pad aumumnya dijual belikan dengan ditakar, ditimbang, atau dihitung. Sehingga, akad qardhu tidak sah untuk barang yang tidak memiliki mitsli seperti hewan, tanah, kayu bakar, dan lainnya, karena termasuk barang yang mutaqawwam (harta benda yang harganya hanya bisa ditaksir dengan melihat keadaanya) sehingga kesulitan untuk mengembalikan dengan barang yang sama.

8.4.3.2 Versi Imam Maliki, Syafi’i, dan Hambali

Barang yang sah dihutangkan merupakan harta benda yang sah untuk dilakukan transaksi salam (pesan), baik barang tersebut pada umumnya dijualbelikan dengan cara ditimbang, ditakar, ataupun dihitung, atau barang-barang yang biasa dijualbelikan dengan cara ditaksir harganya (mutaqawwam) seperti hewan, tanah, dan lainnya.

8.4.4 Ijab dan Qabul (Shighat)

Ijab qabul (shighat) hendaknya menggunakan ungkapan yang menunjukkan makna hutang, seperti kalimat aku berhutang, atau memberi sesuatu dengan syarat mengembalikan barang penggantinya, dan kalimat lainnya.

Catatan:

Madzahib al-arba’ah sepakat, bahwa orang yang berhutang (muqtaridh) berhak memiliki barang yang dihutang apabila telah terjadi serah terima dengan orang yang menghutangi (muqridh).[3]

8.5 Hutang piutang (Qardhu) dengan Mengambil Keuntungan (Jarra Naf’an)

Sebuah kebiasaan (tradisi) yang mulai muncul di tengah masyarakat Islam adalah menghutangkan uang atau harta benda lainnya kepada orang lain, dengan harapan agar mendapatkan pengembalian lebih dari barang yang dihutangkan. Seperti menghutangkan uang sejumlah Rp. 100.000,- dan berharap kelak dilkembalikan dengan jumlah Rp. 150.000,- atau menghutangkan beras seberat 10 kg dan berharpa kelak dikembalikan seberat 17 kg, menghutangkan beras yang berkualitas buruk dengan berharap mendapatkan pengembalian beras yang baik, dan praktek lainnya.

Ulama madzahib al-arba’ah sepakat, bahwa praktek hutan gpiutan gseperti di atas, yakni sebuah praktek qardhu yang menarik keuntungan bagi yang menghutangkan (muqridh) itu hukumnya haram, ketika hal tersebut (menarik keuntungan) disebutkan pada waktu melakukan akad hutang piutang (fi shulbil aqdi). Ketetapan hukum ini berdasarkan fatwa (maqalah) para sahabat yang diriwayatkan oleh imam Baihaqi:

رُوِيَ عَنْ أُبَيٍّ بْنِ كَعْبٍ وَابْنِ مَسْعُوْدٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ نَهُوْا عَنْ قَرْضِ جَرَّ مَنْفَعَةً (رواه البيهقي)

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud, dan Ibnu Abbas RA. Bahwa beliau bertiga melarang praktek hutang-piutang yang menarik keuntungan. (Riwayat Baihaqi)

Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh imam Harits bin Abi Usamah:

عَنْ عَلِيٍّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا (رواه الحارث بن أبي أسامة)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thailb RA. Bahwa Nabi SAW bersabda: “setiap praktek hutang piutang yang menarik sebuah keuntungan adalah riba.”

Keterangan:

Berikut pendapa ulama dalam menanggapi hadits tersebut yang dijadikandasar hukum akad qardhu yang menarik sebuah keuntungan.

  • Kebanyakan ulama (aktsarul ulama) mengatakan, bahwa hadits tersebut adalah dhaif (lemah), akan tettapi ketika diperkuat dengan pendapat para sahabat, maka hadits tersebut bisa dijadikan dasar hukum.
  • Imam al-Haramain dan al-Ghazali berpedapat, bahwa hadits tersebut adalah shahih yang bisa dijadikan dasar hukum, meskipun tidak diperkuat dengan pendapat para sahabat.
  • Imam baihaqi meriwayatkan hadits tersebut dari para sahabat.

Dari beberapa pendapat para sahabat, ulama ahli hadits, ulama tasawuf, dan ulama fiqih bisa ditarik kesimpulan, bahwa hadits tersebut bisa dijadikan dasar hukum, karena shahih dalam maknanya. Jadi, dari uraian pendapat para ulama ahil hadits, ulama fiqh, dan tasawuf dalam masalah hutang piutang yang menarik sebuah keuntungan, dapat disimpulkan bahwa rincian hukumnya adalah sebagai berikut.

  1. Haram dan tidak sah, apabila syarat adana keuntungan bagi yang menghutangi (muqridh) itu disebutkan ketika akad qardhu (fi shulbil aqdi).
  2. Makruh dan sah, apabila syarat keuntungan bagi orang yang menghutangi diungkapkan sebelum akad hutang piutang atau setelahnya (fi ghairi shulbil aqdi), atau keuntungannya kembali kepada orang yang berhutang 9muqtaridh) baik syarat itu diungkapkan ketika akad hutang piutang atau sebelumnya.
  3. Boleh (mubah), bagi orang yang berhutang untuk mengembalikan (melunasi) barang yang dihutang kepada orang yang menghutangi dengan nilai lebih atau tambah, seperti hutang Rp. 100.000,- dan dikembalikan sejumlah Rp. 150.000,- apabila tidak ada persyaratan tambahan pada saat akad hutang piutang, bahkan melunasi dengan jumlah yang lebih termasuk hal yang diajurkan oleh syara’, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh imam Muslim:

عَنْ أَبِىْ رَافِعٍ أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْلَفَ مِيْ رَجُلٍ بَكْرًا فَقَدِمَتْ عَلَيْهِ إِبِلٌ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ فَأَمَرَ أَبَا رَافِعٍ أَنْ يَقْضِيَ الرَّجُلَ بَكْرَهُ فَرَجَعَ إِلَيْهِ أَبُوْ رَافِعٍ فَقَالَ لَمْ أَجِدْ فِيْهَا إِلاَّ خِيَارًا رَبَاعِيًا فَقَالَ أَعْطِهِ إِيَّاهُ إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً (رواه مسلم)

Diriwayatkan dari Abu Rafi’, sesungguhnya Rasulullah SAW memesan seekor anak unta dari seorang laki-laki, tiba-tiba Beliau mendapatkan seekor unta (sebagai hadiah), lalu beliau menyuruh Abu Rafi’ untuk melunasi hutang Rasulullah SAW berupa anak unta tersebut, kemudian Abu Rafi’ kembali menemui Rasulullah SAW dan berkata, “Hamba tidak menemukan anak unta wahai Rasulullah SAW kecuali seekor unta yang sangat bagus. Lalu Beliau Bersabda: “Berikanlah unta itu untuk melunasi (hutangku) kepada orang itu, sesunggunya sebaik-baik manusia adalah yang melunasi (hutang) dengan barang yang lebih baik.” (HR. Muslim)

Hadits RasulullahSAW yang diriwayatkanoleh imam Bukhari dan Muslim:

عَنْ جَابِرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ كَانَ لِيْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَيْنٌ فَقَضَانِيْ وَزَادَنِي (رواه مسلم)

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: “saya memiliki piutang terhadap Nabi SAW, kemudian Beliau membayar hutangnya dan memberikan kelebihan kepadaku.” (HR. Muslim)

Ulama berbeda pendapat tentan permasalahn ketika seseorang menghutangkan uangnya sebesar Rp. 150.000,- dan meminta agar dikembalikan sebesar Rp. 100.000,- yang disampaikan ketika akad hutang piutang, atau menghutangkan barang yang berkualitas tinggi dan meminta dikembalikan berupa barang yang berkualitas rendah, dengan keterangan sebagai berikut.

  • Tidak boleh (haram), karena konsep dasar akad qardhu (hutang piutang) adalah mengembalikan (melunasi) harta benda yang dihutang sesuai dengan jumalh atau nilai benda yang dihutang tersebut. Sehingga, apabila ketika akad qardhu terdapat syarat harus mengembalikannya dengan barang yang lebih rendah, jelek atau kurang nilainya, maka akad hutang piutang itu tidak sah, sebagaimana akad qardhu yang disyaratkan pengembalian yang lebih baik, lebih banyak atau bernilai lebih tinggi.
  • Boleh (halal), karena konsep dasar dari akad qardhu adalah untuk menolong dan belas kasihan terhadap orang yang berhutang. Dengan demikian, hutan gdengan syarat mengembalikan barang yang lebih rendah, lebih jelek, dan lebih murah pasti akan membantu orang yang berhutang. Berbeda dengan syarat mengembalikan barang yang lebih rendah, lebih jelek dan lebih murah pasti akan membantu orang yang berhutang. Berbeda dengan syarat mengembalikan barang yang lebih tinggi atau lebih mahal, karena hal itu memberatkan orang yang berhutang.

Catatan:

Ulama berpedapat bahwa hikmah dari akad qardhu (hutang piutang) yang tidak boleh disertai syarat menguntungkan terhadap oran gyang menghutangi (muqridh) adalah agar tidak memberatkan orang yang berhutang (muqtaridh) dan akan keluar dai tujuan menghutangi, yaitu menolong dan mengasihi terhadap sesama hamba Allah SWT.

8.6 Hukum Menerima Perlunasan yang Melebihi Jumlah Hutang

Apabila orang yang berhutang belum membayar hutangnya tapi memberikan sedekah atau hadiah kepada orang yang menghutangi (muqridh). Apakah orang yang menghutangi boleh menerima sedekah atau hadiah tersebut?

Dalam hal ini ulama madzahib al-arba’ah berbeda pendapat dengan keterangan sebagai berikut.

8.6.1 Versi Imam Hanafi, Syafi’i, dan Hambali

Mereka sepakat, bahwa orang yang menghutangi (muqridh) boleh menerima sedekah atau hadiah dari orang yang berhutang (muqtaridh), apabila pada waktu akad hutang piutang tidak ada syarat harus memberikan sedekah atau hadiah.

8.6.2 Versi Imam Maliki

Orang yang menghutangi tidak boleh menerima sedekah atau hadiah dari orang yang berhutang karena sedekah atau hadiah tersebut bisa menambah beban bagi orang yang telah berhutang kepadanya karena belum bisa mengembalikan (melunasi) hutangnya.

8.7 Bunga Dalam Transaksi

Dalam akad Qardhu (hutang piutang) akan dikenal beberapa istilah yang berkaitang dengan akad tersebut, antara lai, bunga, riba (tambahan), dan istilah lainnya.

8.7.1 Pengertian Bunga (Interest)

Bunga adalah tambahan yang diminta dalam prosesi pinjaman uang yang diperhitungkan dari pokok pinjaman dengan tanpa mempertimbangkanpemanfaatan atau hasil pokok tersebut, berdasarkan jangka waktu (tempo), dan dipertimbangkan secara pasti di muka berdasarkan persentase.

8.7.2 Pengertian Riba (Ziyadah)

Riba adalah tambahan tanpa adanya imbalan yang terjadi karena penuggakan dalam pembayaran yang telah disepakati dengan bentuk perjanjian pada surat transaksi. Hal ini menurut syari’at islam disebut dengn riba nasi’ah.

Manusia adalah makhluk sosial, dimana dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selalu membutuhkan peran dan bantuan orang-orang disekitarnya, baik kebutuhan yang berhubungan dengan jasmani maupun rohani. Orang kaya membutuhkan peran orang miskin, apalagi yang miskn yang hidupnya serba kekurangan, tentu akan membutuhkan peran dari orang kaya. Pemimpin membutuhkan rakyat yang akan dipimpin, seorang ulama membutuhkan umat dan seterusnya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup bermasyarakat, orang kaya menanamkan modalnya, orang miskin berhutang modal usaha ke lembaga keuangan seperti bank, koperasi, dan lembaga keuangan lainnya, yang dalam prakteknya tidak luput dari persoalan bunga.

Dalam permasalahan ini, masih ada beberapa hal yang perlu adanya kejelasan dan ketetapan hukum yang bisa digunakan pijakan dalam bermu’amalah (berinteraksi sosial). Sementara pertanyaan yang muncul diantaranya adalah :

  1. Bagaimanakah hukum bunga (interest) yang diberlakukan di lembaga keuangan seperti bank, koperasi, pegadaian, dan lembaga keuangan lainnya termasuk oleh individu (perorangan)?
  2. Apakah bunga yang diberlakukan oleh lembaga keuangan tersebut sama dengan riba yang hukumnya haram?
  3. Kalau sama dengan riba, bagaimana solusi terbaik supaya terhindar dari hukum haram tersebut?

Jawaban:

  1. Hukum bunga yang diberlakukan oleh lembaga keuangan diperinci sebagai berikut:
  2. Haram, apabila bunga itu disebutkan saat transaksi, seperti jika penghutang dan yang menghutangi sepakat hutangnya sejumlah Rp. 100.00,- dan harus dikembalikan sejumlah Rp. 125.00,-
  3. Halal (makruh), apabila bunga tidak disebutkan ketika transaksi,seperti penghutang dan yang menghutangi sebelum transaksi sepakat atas bunga tertentu (5%, 7%, atau 10%), dan pada saat transaksi tdak menyebutkan adanya bunga (tambahan uang).
  4. Sama dengan riba, yakni hukumnya haram, apabila prakteknya sebagaimana perincian yang pertama dalam sub A.

Tidak sama dengan riba, yakni hukumnya halal tetapi makruh apabila prakteknya sebagaiana perincian kedua dalam sub A.

  1. Solusi agar terhindar dari hukum riba, maka dalam prakteknya bisa mengikuti tata cara yang ada di perincian ke dua dalam sub A.

Catatan:

Sebagian ulama dari madzhab Syafi’i berpendapat, bahwa hukum bunga dirinci sebagai berikut,

  • Makruh, apabila tidak menyebutkan bunga ketika transaksi terjadi, meskpun sebelum transaksi ada kesepakatan atas adanya bunga tertentu.
  • Haram secara mutlak, yakn ketika transaksi menyebutkan adanya bunga tertentu atau dengan jumlah yang tidak tertentu, yang terpenting dalam kenyataannya terdapat sejumlah bunga.

Ketetapan hukum ini berdasarkan dirman Allah swt di dalam al Qur’an surat al-Baqarah ayat 275:

الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمّسِّ ذٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوْا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ (البقرة : 275)

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu karena mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). Dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Firman Allah swt di dalam al-Qur’an surat Ali Imran ayat 130:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَأْكُلُوْا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ (آل عمران : 130)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh imam Muslim:

رُوِيَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَهُ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ (رواه مسلم)

Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata Rasulullah melaknat orang yang makan riba, orang yang membari riba, orang yang mencatatnyam dan dua orang yang menjadi saksinya. Beliau barsabda “Mereka (mendapatkan dosa yang) sama.” (HR. Muslim)

Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Nasa’i:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ أَصَابَهُ مِيْ غُبَارِهِ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata Rasulullah bersabda: “Akan datang pada manusia suatu masa dimana mereka adalah pemakan riba dan orang yang tidak memakan riba, tetap akan terkena imbas riba.”

Hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Harits bin Abi Salamah:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ قَرْضٍ جَرَّمَنْفَعَةً فَهُوَ الرِّبَا (رواه الحارث بن ابي سلامة)

Diriwayatkan dari Abu hurairah ra, Nabi bersabda : “Setiap akad hutang piutang yang menarik sebuah keuntungan adalah termasuk riba” (HR. Harits bin Abu Usamah)

Maqalah sahabat Rasulullha yang diriwayatkan oleh imam Baihaqi:

رُوِيَ عَنْ أُبَيٍّ بْنِ كَعْبٍ وَابْنِ مَسْعُوْدٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَنَّهُمْ نَهَوْا عَنْ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً (رواه البيهقي)

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’b, Ibnu Mas’ud, dan Ibnu Abbas ra, bahwa mereka melarang hutang piutang yang menarik keuntungan. (Riwayat Baihaqi)

Keterangan di dalam kitab I’anah at-Thalibin juz 13 hal 53-54:

وَأَمَّا الْقَرْضُ بِشَرْطِ جَرِّ نَفْعِ لِمُقْرِضٍ فَفَاسِدْ لِخَبَرِ كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا (قوله فَفَاسِدٌ) قَالَ ع شــ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ مَحَلَّ الْفَسَادِ حَيْثُ وَقَعَ الشَّرْطُ فِي صُلْبِ الْعَقْدِ أَمَّا لَوْ تَوَفَقَا عَلَى ذٰلِكَ وَلَمْ يَقَعْ شَرْطٌ فِيْ الْعَقْدِ فَلاَ فَسَادَ اه وَالْحِكْمَةُ فِيْ الْفَسَادِ أَنَّ مَوْضُوْعَ الْقَرْضِ الْإِرْفَاقُ فَإِذَا شَرَطَ فِيْهِ لِنَفْسِهِ حَقُّا خَرَجَ عَنْ مَوءضُوْعِهِ فَمَنَعَ صَحَّتَهُ (اعانة الطالبين جـ 3 صـ 54-53)

Adapun menghutangi dengan syarat menarik sebuah keuntungan bagi yang menghutanig maka hukumnay adalah rusak (batal), ini berdasarkan hadits, bahwa “Setiap menghutangi yang menarik sebuah keuntungan maka hal tersebut termasuk riba.” Syaikh Ali Syibromilisiy berkata, “Sudah maklum bahwa saat prosesi akad berlangsung. Sedangkan jika keduanya (penghutang dan yang berhutang) melakukan kesepakatan tersebut (penarikan keuntungan bagi penghutang), dan tidak disyaratkan saat akad berlangsung, maka akad hutang-piutangnya hukumnya tidak rusak. Hikmah rusaknya akad hutang-piutang (dengan menarik keuntungan) tersebut dikarenakan nilai pokok hutang-piutang adalah mengasihi, sehingga ketika orang yang menghutangi itu mensyaratkan sebuah keuntungan bagi dirinya, maka akad hutang-piutang tersebut sudah keluar dari nilai pokoknya, dan hal tersebut akan mencegah keabsahan akad hutang-piutang.

Keterangan dari syaikh As-Subki di dalam kitab I’anah at-Thalibin juz III hal. 53-54:

وَمِنْهُ أي وَمِنْ رِبَا الْقَرْضِ الْقَرْضُ لِمَنْ يَسْتَأْجِرُ مِلْكَهُ أي مَثَلاً بِأَكْثَرَ مِنْ قِيْمَتِهِ لِأَجْلِ الْقَرْضِ إِنْ وَقَعَ ذّلِكَ أي الْاِسْتِئْجَارُ الْمَذْكُوْرُ شَرْطًا أي فِيْ صُلْبِ الْعَقْدِ حَرَامٌ إجْمَاعًا وَإِلاَّ أَي وَإِنْ لَمْ يَقَعْ ذَلِكَ شَرْطًا فِيْ صُلْبِ الْعَقْدِ كُرِهَ أي وَلاَ يَكُوْنُ رِبًا عِيْدَنَا أي مَعَاشِرَ الشَّافِعِيَّةِ وَحَرَامٌ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ قَالَهُ السُّبْكِيُّ (اعانة الطالبين جـ 3 صـ 54-53)

Sebagian dari praktek riba qordl adalah menghutangkan kepada seseorang yang mau menyewa barang miliknya misalnya dengan ongkos sewa yang lebih besar daripada ongkos pada umumnya, dikarenakan (penyewa) berhutang (tidak membayar sewanya ecara langsung). (Termasuk riba) apabila penyewaan trsebut (penyewaan dengan ongkos sewa yang lebih besar daripada ongkos umumnya) menjadi sebuah persyaratan dalam proses akad berlangsung hukumnya haram menurut kesepakatan ulama’. Tapi apabila tidak disyaratkan saat prosesi akad berlangsung hukumnya hanya makruh dan juga tidak termasuk riba menurut ulama Syafi’iyah (ulama mazhab Syafi’i), dan haram hukumnya menurut mayoritas ulama, pernyataan tersebut dikemukakan oleh imam As-Subkiy.[]

[1] Madzahib al-Arba’ah jusz ii hal. 338-339, As-Syarwany juz v hal. 35-36, hasyiyah al-Jalam juz iii hal. 254, al-Kafi juz ii hal. 91, al Bayan juz iv hal 422, Fiqh al Islami juz iv hal. 720-723

[2] Hawasyi as-Syarwani juz V hal 35-36, al-Bayan juz V hal. 417, al-Kafi juz II hal. 90, Jawahirul Iklil juz II hal. 75, Fiqh al-Islami juz IV hal. 719

[3] Madzahib al-arba’ah juz II hal. 339-344, As-Syarwani juz V hal. 37-44, al-Bayan juz V hal. 418-420, Fiqh al-Islami juz IV hal. 721-724

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s