Uncategorized

Riba

 

0706402c47c0d9426c457ec1dbc01a58
Pengertian Riba

Pengertian riba secara etimologis (lughot) adalah bertambah. Makna ini berdasarkan firman Allah swt dalam alquran surat Al Hajj ayat 5:

وترى الأرض هامدة فإذا أنزلنا عليها الماء اهتزت وربت وأنبتت من كل زوج بهيج (الحج / 5)

Artinya : Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah kami turunkan air diatasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh tumbuhan yang indah.

Sedangkan pengertian riba secara terminologis (istilah syara’) adalah kelebihan atau tambahan yang dihasilkan dari barang dagangan yang terjual (mabi’) atau dari alat pembayaran (tsaman) dengan cara yang tidak dibenarkan oleh syariat islam.

Harta kekayaan yang di hasilkan dari jalan riba baik dengan transaksi yang bisa menimbulkan riba ataupun barang yang digunakan dalam transaksi merupakan barang riba (ribawi) itu hukumnya haram. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam al quran surat Al-Baqarah ayat 275:

اِنَّما البيعُ مثل الربا واحل الله البيع و حرم الربا

Artinya : Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Alloh SWT telah menghalalkan jual beli dan meharamkan riba.

Firman allah dalam surat Al-Baqarah ayat 278:

يا ايها الذين امنوا اتقوا الله وذروا ما بقي من الربا ان كنتم مؤمنين

Artinya : Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh SWT dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang orang yang beriman.

Hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh imam Bukhari Muslim:

عن ابي هريرة ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال اجتنبوا السبع الموبقات قيل يا رسول الله وما هن قال الشرك بالله والسحر وقتل النفس التى حرم الله الا بالحق وأكل مال اليتيم وأكل الربا والتولى يوم الزحف وقذف المحصنات الغافلات المؤمنات (رواه البخاري ومسلم)

Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Sesungguhnya Rasululloh SAW bersabda : Jauhilah tujuh perkara yang dapat merusak. “ Apakah itu wahai Rosululloh? “ Beliau bersabda : Menyekutukan Alloh SWT, sihir, membunuh kecuali yang hak, makan harta anak yatim, makan harta riba, melarikan diri diwaktu perang, menuduh zinah perempuan yang terjaga (muhshon) yang lupa dan beriman. (HR. Bukhori dan Muslim).

Hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

عن عبد الله قال لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم أكل الربا وموكله قال قلت وكاتبه وشاهديه (رواه مسلم )

Artinya : Diriwayatkan dari Abdillah, Rosululloh SAW melaknat orang yang makan (harta) riba, orang yang mewakilkan harta riba, pencatat riba, dan dua orang saksi riba (HR Muslim)

Pembagian Riba

Praktek riba pernah marak terjadi di kalangan masyarakat arab zaman jahiliyyah (zaman sebelum islam). Ada beberapa bentuk riba yang sering dilakukan pada waktu itu. Menurut madzahibul arba’ah, riba dibagi beberapa bagian sebagai berikut:

 

A. Versi Imam Hanafi, Maliki dan Hambali, riba dibagi menjadi 2 macam:

  1. Riba nasi’ah yaitu pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang menjual karena adanya batasan dalam waktu pembayaran. Seperti menjual beras sepuluh kilo gram dengan harga Rp.75.000 ,namun karena jangka pembayarannya selama dua bulan, maka pembeli harus membayar Rp.100.000. Berarti uang sebesar Rp. 25.000 adalah riba.
  2. Riba fadhl yaitu penukaran suatu barang ribawi dengan barang yang sejenis akan tetapi jumlah kadar atau timbangannya tidak sama, seperti penukaran emas 2 gram dengan 2,5 gram emas, menjual 30 kilo gram beras dengan 35 kilo gram beras , dan sebagainya.

B. Versi Imam Syafi’i, riba dibagi 3 macam:

Riba nasi’ah yaitu pembayaran lebih yang disyaratkan oleh penjual karena adanya batasan jangka waktu pembayaran.

  1. Riba fadhl yaitu penukaran suatu barang ribawi dengan barang ribawi yang sejenis akan tetapi jumlah kadar atau timbangannya tidak sama, seperti penukaran emas 2 gram dengan 2,5 gram emas dsb.
  2. Riba yad yaitu penukaran barang ribawi (transaksi) dengan barang ribawi yang sejenis akan tetapi tidak langsung serah terima. Seperti menjual beras 30 kg di beli dengan beras 30 kg pula dengan serah terima setelah dua hari kemudian.

 

Harta Benda Riba dan Alasan Hukum Haramnya.

Madzahib al- arba’ah sepakat bahwa hukum melakukan transaksi riba adalah haram, namun berselisih pendapat dalam menentukan alasan (‘illat) hukum haramnya. Begitu juga dalam permasalahan harta benda yang bisa terjadi riba.

 A. Versi Imam Hanafi

‘Illat (alasan) hukum barang dalam riba lebih dikarenakan jumlah kelebihan atau tambahan dalam timbangan atau takaran. Artinya, untuk dikatakan sebagai harta riba, kelebihan atau tambahannya ketika mencapai ½ sha’ (1,25 kg) atau lebih. Apabila tambahan atau kelebihan tersebut kurang dari ½ sha’, maka tidak dianggap sebagai harta riba. Pendapat ini juga masyhur di kalangan ulama’ madzab Maliki.

Sedangkan harta benda yang bisa terjadi riba dalam jenis barang yang ditimbang adalah :

  1. Emas;
  2. Perak;
  3. Besi;
  4. Tembaga

Sementara dalam hal kebutuhan makanan pokok adalah:

  1. Beras;
  2. Jagung;
  3. Gandum;
  4. Anggur;
  5. Kurma

Catatan:

Harta benda yang di jual belikan dengan cara tidak ditimbang atau ditakar maka tidak terjadi riba fadhl, seperti kelapa, barang elektronik, baju dan lainnya.

 

B. Versi Imam Maliki

‘Illat (alasan) hukum haram riba dalam harta benda emas dan perak adalah karena unsur naqdiyyah, yakni kandungan emas dan peraknya tersebut. Sementara dalam hal makanan terbagi menjadi dua bagian.

  • Dalam riba nasi’ah, lebih dikarenakan unsur math’umiyyah, yakni sifat menjadi makanan, baik bisa menguatkan badan atau tidak, baik bisa disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama atau tidak.
  • Dalam riba fadhl, dikarenakan makanan bisa menguatkan badan dan bisa disimpan dalam jangka waktu lama.

Sedangkan harta benda yang bisa terjadi riba dalam jenis barang yang ditimbang adalah:

  1. Emas;
  2. Perak;

Jenis makanan pokok yang bisa terjadi riba adalah:

  1. Beras;
  2. Jagung:
  3. Gandum

Jenis makanan yang tidak bisa menguatkan badan adalah :

  1. Semangka;
  2. Nanas;
  3. Jeruk, dan sejenisnya.

Catatan:

  • Maksud dari makanan yang menguatkan badan adalah, setiap makanan pokok yang menjadi bahan konsumsi setiap orang untuk melangsungkan kehidupan, dan membangun tenaga dalam tubuh.
  • Sedangkan maksud dari harta yang bisa disimpan adalah, setiap harta benda yang pada umumnya bisa bertahan dan tidak cepat membusuk atau rusak dalam waktu cukup lama.

 

C. Versi Imam Syafi’i

‘Illat (alasan) huku haram riba dalam harta benda emas dan perak adalah karena unsur naqdiyyah, yakni kandungan emas dan perak tersebut bisa digunakan sebagai alat transaksi jual beli dan lainnya. Sementara dalam hal makanan dikarenakan unsur math’umiyyah, yakni segala makanan yang tercipta untuk dikonsumsi setiap manusia.

Harta benda yang bisa terjadi riba dalam jenis barang emas yang ditimbang adalah:

  1. Emas;
  2. Perak;

Jenis makanan yang bisa terjadi riba , adalah :

  1. Makanan pokok, seperti beras, gandum, jagung, dan lainnya;
  2. Makanan tidak pokok, seperti jeruk, nanas, semangkan dan sejenisnya;
  3. Bahan penyedap makanan, seperti garam, minyak goreng, dan lainnya.

Catatan:

  • Tulang dan kulit hewan tidak bisa terjadi riba, karena tercipta bukan untuk bahan makanan pada umumnya.
  • Rumput, daun-daunan, dan lainnya juga tidak bisa terjadi riba. Karena tercipta untuk bahan makanan hewan, bukan untuk manusia.

 

D. Versi Imam Hambali

‘Illat (alasan) hukum haram riba dalam setiap harta benda yang ditimbang atau ditakar adalah karena adanya jumlah kelebihan atau tambahan yang mestinya akan memberatkan atau merugikan salah satu pihak.

Harta benda yang bisa terjadi riba dalam jenis barang yang ditimbang adalah:

  1. Emas;
  2. Perak;
  3. Besi;

Harta benda yang bisa terjadi riba dalam jenis barang yang ditakar adalah:

  1. Beras;
  2. Jagung;
  3. Gandum;.

Harta benda yang dalam jual belinya tidak dengan cara ditimbang atau ditakar, maka tidak bisa terjadi riba, seperti barang dagangan yang diukur (kain, tali, dan lainnya) atau dihitung per satuan ( seperti, buah kelapa, semangka atau lainnya)

Catatan:

Ulama’ madzahib al-arba’ah mengelompokan harta benda yang diperjual belikan dengan cara ditimbang, ditakar, atau diukur karena melihat situasi dan kondisi masyarakat Islam pada waktu itu, dimana transaksi jual beli dilakukan secara barter atau saling tukar menukar barang dagangan atau barter. Sedangkan untuk kehidupan zaman sekarang, sisitem jual beli sudah mengalami banyak perubahan dan perbedaan dengan zaman dahulu. Hampir diseluruh dunia telah memiliki alat pembayaran yang sah. Dengan demikian, penerapan hukum transaksi jual beli dinilai riba atau tidaknya, disesuaikan dengan kondisi zaman sekarang dengan mengikuti tatanan hukum ulama’ salaf selama ditemukan ‘illat al-hukmi (alasan hukum) yang sama.

 

Naqd

An-naqd adalah jenis mata uang yang terbuat dari bahan emas dan perak. Mata uang ini berlaku pada zaman madzahib al-arba’ah, diamana masyarakat pada waktu itu umumnya menggunakan naqd sebagai alat jual beli yang sah. Disamping naqd, terdapat pula jenis mata uang yang digunakan sebagai alat jual beli, yakni naqd al-balad dan fulus. Naqd al-balad adalah jenis mata uang yang terbuat dari selain bahan emas dan perak. Sedangakan fulus adalah jenis mata uang pecahan logam yang terbuat dari bahan tembaga.

Uang emas dan perak atau naqd, ketika telah sampai satu nishab dan telah memenuhi persyaratan zakat, maka harus dikeluarkan zakatnya.

Di Indonesia, alat pembayaran yang sah adalah dengan menggunakan uang logam dan kertas dengan satuan rupiah. Seperti halnya Negara Arab Saudi memiliki alat pembayaran yang sah dengan satuan riyal. Persamaan antara naqd dengan mata uang rupiah, riyal, dan mata uang lainnya adalah sama-sama sebagai alat transaksi jual beli yang sah. Namun ada beberapa pendapat tentang persamaan dan perbedaan diantara keduanya dalam permasalahan zakat, riba, dan akad qiradl (bagi hasil).

A. Versi Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i

Mata uang rupiah, riyal, dan mata uang lainnya memiliki persamaan hukum dengan naqd (mata uang emas dan perak ) dalam beberapa hal berikut ini.

  1. Wajib dikeluarkan zakatnya, karena keduanya sama-sama sebagai alat pembayaran yang sah dalam transaksi jual beli.
  2. Berlaku hukum riba, karena keduanya merupakan jenis mata uang, meskipun uang rupiah, riyal, dan lainnya tidak terbuat dari bahan emas dan perak.
  3. Berlaku untuk akad qiradl (bagi hasil), karena mata uang atau alat pembayaran zaman sekarang adalah dengan mata uang semisal rupiah, riyal, atau lainnya, tidak lagi meggunakan naqd (mata uang emas dan perak). Sehingga untuk melestarikan hukum fikih maka akad qiradl juga berlaku dengan menggunakan mata uang selain naqd.

B. Versi Imam Hambali

Mata uang rupiah, riyal, dan mata uang lainnya tidak memiliki hukum sama dengan naqd (mata uang emas dan perak) dalam permasalahan zakat, riba ataupun akad qiradl, karena dzatiyah (bahan materi) mata uang rupiah, riyal, atau lainnyatidak terbuat dari bahan emas dan perak, meskipun sama-sama sebagai alat pembayaran yang sah di negaranya.

 

Cara Menjual belikan harta Ghairu Ribawy

            Barang dagangan yang termasuk barang ribawy, yaitu segala macam harta benda yang berlaku hukum riba, tidak bisa secara bebas dijual belikan di pasaran. Beda halnya dengan barang dagangan ghairu ribawy, yakni segala macam harta benda yang tidak berlaku hukum riba yang boleh secara bebas menjualnya di pasaran. Barang ghairu ribawy dapat dijual belikan dengan beberapa cara berikut ini.

Kontan, yakni setelah usai akad jual beli, penjual seketika menyerahkan mabi’ (barang dagangan) kepada pembeli, kemudian pembeli menyerahkan sejumlah uang sebagai tsaman (alat pembayaran) sebelum keduanya meninggalkan tempat akadjual beli (majlis aqad).

Dzimmah, yakni setelah usai akad jual beli, penjual menyerahkan mabi’ (barang dagangan) kepada pembeli, tetapi pembeli tidak seketika menyerahkan sejumlah uang sebagai tsaman (alat pembayaran), atau sebaliknya, pembeli menyerahkan tsaman namun penjual belum menyerahkan barang dagangan sampai batas waktu yang telah disepakati keduanya.

Barter, yakni saling menukar antara barang dagangan dengan barang yang lain sebagai tsaman, baik nilai keduanya sama ataupun tidak sama, dimana nilai salah satu dari dua barang dagangan yang ditukar itu lebih dari tsaman (harga) pada umumnya atau sebaliknya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s