Fiqih · Uncategorized

Jual Beli

Sejumlah pedagang dan pembeli melakukan transaksi di pasar Gede, Solo, Jawa Tengah (20/3).

Lafadz “ بُيُوْعٌ”itu jama’ dari lafadz “بَيْعٌ”.

Jual beli menurut bahasa yaitu suatu bentuk akad penyerahan seseuatu dengan sesuatu yang lain. Oleh karena itu akad ini memasukkan segala sesuatu yang tidak berupa uang seperti khamer (tuak).

Adapun jual beli menurut syara’, maka pengertian yang paling bagus ialah memiliki sesuatu harta dengan ganti seseuatu atas dasar izin syara’, atau sekedar memiliki manfaatnya saja yang diperbolehkan syara’ dengan melalui pembayaran yang berupa uang.

Istilah “perundian” adalah mengecualikan akad “Qiradl. Istilah “diperbolehkan syara’” itu mengecualikan “riba”. Istilah bermanfaat itu memasukkan pngertian “hak milik membangun.”

Demikian juga istilah harga mengecualikan “upah” dalam akad sewa-menyewa, karena akad sewa-menyewa itu tidak dapat disebut dengan “harga”.

Adapun jual beli itu ada tiga macam yaitu :

Pertama : Jual beli sesuatu yang tidak dapat dilihat, yakni barangnya ada ditempat, maka jual beli yang semacam ini hukumnya boleh. Asal ditemukan beberapa syarat sebagai berikut :

  1. Keadaan bendanya suci.
  2. Bendanya bisa diambil manfaatnya sesuai dengan yang dimaksudkan.
  3. Bendanya dapat diserahkan kepada pihak pembeli.

Dalam akad jual beli itu harus ada ijab qabul (serah terima.

Ijab ialah seperti perkataan penjual benda atau orang yang menggantikannya : aku menjual padamu dan menyerahkan pula kepadamu dengan sesuatu”.

Qabul ialah seperti ucapan si pembeli atau orang yang menggantikannya : “Aku membeli dan memiliki” dan dengan lafadz sepadannya.

Kedua : Menjual benda yang diberi sifat dalam satu tanggungan. Penjualan semacam ini dinamakan “pesanan” (salam), maka hukumnya boleh, jika didalamnya terdapat satu sifat yang ditetapkan dari beberapa sifat pesanan dan ini akan diterangkan dallam pasal “Pesanan” (salam) pada bagian yang akan datang.

Ketiga : menjual benda yang tidak ada dan tidak dapat dilihat mata oleh kedua belah pihak (penjual dan pembeli), maka jual beli yang semacam ini hukumnya tidak boleh.

Adapun yang dikehendaki denganpengertian “boleh” (jawaz) dalam tiga macam bentuk jual beli ini, yaitu “sah”.

Perkataan mushannif (pengarang) tentang “barang yang tidak dapat dilihat”, kadang-kadang juga memberikan pengertian terhadap barang yang tadinya dapat dilihat, kemudian tidak ada ketika terjadi akad-akadan, maka yang demikian ini hukumnya sah. Tetapi posisi sahnya ini adalah pada barang yang menurut kebiasaannya tidak mengalami perubahan dengan adanya masa-masa yang menyelai-nyelai antara penglihatan dan pada saat membeli.

Dan sah menjual barang yang suci ang bisa diambil manfaatnya dan dimiliki.

Mushannif (pengarang) menerangkan dengan melalui pemahamannya beberapa ini dalam suatu perkataan : “tidak sah menjual barang yang najis, demikian juga barang yang terkena najis, seperti khamer (tuak), minyak yang terkena najis dan yang semacamnya, yaitu barang-barang yang tidak mungkin mensucikannya”.

Dan juga tidak sah menjual barang yang tidak ada manfaatnya , seperti binatang kala, semut dan binatang buas yang tidak dapat diambil manfaatnya.

Pasal : Menerangkan tentang riba

Lafadz “riba” dibaca dengan alif maqshuroh, menurut bahasa itu mempunyai arti tambah. Sedan menurut syara’ adalah penyerahan pergantian sesuatu dengan sesuatu yang lain, yang tidak dapat terlihat adanya kesamaan menurut timbangan syara’ pada waktu akad-akadan, atau disertai mengakhirkan dalam tukar-menukar atau hanya salah satunya.

Riba itu haram, tetapi riba hanya terdapat pada emas perak dan makanan-makanan.

Adapun yang dimaksud dengan makanan-makanan, ialah segala sesuatu yang biasa dimakan, agar menjadi kuat. Baik buah-buah an atau sesuatu yang dapat dibuat untuk pengobatan. Dan tidak ada riba selain pada yang tersebut diatas.

Tidak boleh menjual emas dengan emas. Demikian pula menjual perak dibeli dengan perak, keduanya sudah tercetak, kecuali jika keduanya sama dalam timbangannya.

Maka tidak sah (Tidak boleh) menjual sesuatu (emas atau perak) secara berlebihan. Adapun perkataan mushannif : “Naqdan” (secara kontan), maksudnya ialah serah terima seketika itu juga. Sebab, bila emas atau perak itu dijual dengan tempo pembayarannya, maka hukumnya tidak sah.

Tidak sah menjual barang yang telah dibeli sebelum barang itu diterimanya, baik itu dijual kepada orang yang semula menjual atau lainnya.

Dan tidak boleh menjual daging dibeli dengan binatang, meskipun binatang itu sejenis, seperti menjual daging kambing, dibeli dengan binatang kambing, atau lain jenisnya, tetapi dari binatang yang halal binatang, seperti menjual daging sapi dibeli dengan binatang kambing.

 

Boleh menjual emas dibeli dengan perak dengan cara berlebihan, tetapi harus kontan dan dierimakan sebelum berpisah.

Demikian pula berlaku untuk makanan-makanan. Tidak boleh menjual satu jenis dari makanan-makanan tersebut dengan sejenisnya kecuali harus sama, dibayar dengan kontan dan diterimakan sebelum berpisah.

Dan boleh menjual satu jenis dari beberapa makanan dibeli dengan jenis makanan yang lainnya secara berlebihan, tetapi harus dibayar dengan kontan dan diterima sebelum berpisah.

Jika penjual dan pembeli berpisah sebelum menerima semua barangnya, maka batallah jual belinya. Atau perpisahnnya terjadi sesudah menerima sebagian barangnya, maka dalam hal ini ada dua pendapat yang memisahkan akad.

Tidak sah menjual barang yang samar. Seperi : Menjual seorang budak dari beberapa budakku yang ada atau menjual burung yang ada di udara.

Pasal : Menerangkan tentang hukum-hukum khiyar (memilih)

Bagi penjual dan pembeli ada hak khiyar (memilih) antara meneruskan atau membatalkan jual belinya. Arti beli ada hak tetap untuk memilih beberapa macam akad jual beli di tempatnya (khiyar majelis) seperti pesanan (salam), selama kaduanya belum berpisah, artinya suatu masa tidak berpisahnya kedua belah pihak menurut kebiasaan.

Maksudnya, bahwa khiyar majlis menjadi bubar adakalanya disebabkan berpisahnya kedua belah pihak (penjual dan pembeli) dengan badannya dari tempat akad-akadan atau pihak penjual dan pembeli memilih tetapnya akad.

Apabilah salah satu (diantara penjual dan pembeli) memilih tetapnya akad dan yang lain tidak segera memilih, maka gugurlah hak pilih bagi orang yang lainnya itu, sedangkan bagi yang lainnya masih tetap ada hak pilih

Boleh bagi keduanya (penjual dan pembeli) atau salah satunya, ketika pihak yang lain menemuinya untuk mengadakan perjanjian khiyar dalam bermacam-macam jual beli yakni sampai tiga hari.

Tiga hari tersebut dihitung mulai dari terjadinya akad, tidak dihitung dari terjadinya perpisahan. Jika masa khiyar itu lebih dari tiga hari, maka batal akadnya.

Bila yang dijual itu termasuk barang yang rusak dalam waktu yang telah dijanjikan (disyaratkan), maka batal akadnya.

Apabila barang yang dijual itu terdapat cacat (aib) yang tampak sebelum pembeli menerima barang, maka harga barang tersebut menjadi kurang. Atau memang keadaan barangnya berkurang, sehingga minat yang benar (untuk membeli barang tersebut) menjadi terlambat. Sedangkan menurut kebiasaannya, jenis barang yang di jual itu tidak ada cacatnya(aibnya), seperti zinanya budak, mencurinya dan melarikan diri. Maka bagi pembeli boleh mengembalikan barang yang dijual itu.

 

Tidak boleh menjual buah-buahan yang masih ada di pohonnya secara mutlaq, tanpa dengan pohonnya, artinya tanpa ada syarat memotong pohonnya, kecuali setelah kelihatan terang kebaikan buah-buahan itu.

Adapun yang dimaksud “kelihatan terang kebaikannya” ialah dalam hal barangna tidak berubah warna setelah sampai pada saatnya, keadaan buah-buahan sudah sesuai dengan yang dimaksud menurut kebiasaan. Seperti manisnya tebu, asamnya delima dan lemahnya buah tin.

Bagi buah-buahan yang dapat berubah rupanya, maka yang dianggap terang kebaikannya ialah jika buah-buahan tersebut sudah menjadi manis (rasanya), hitam atau kuning (warnanya). Seperti anggur, juwet, dan kurma.

Adapun buah-buahan yang dibuang sebelum kelihatan terang kebaikannya, maka secara mutlaq tidak sah hukumnya. Terus tidaknya itu berlaku pada orang yang mempunyai pohon saja dan tidak bagi yang lainnya, kecuali dengan janji bersedia memotong atau memetik, baik berlaku kebiasaannya memotong atau memetik buah-buahan atau tidak.

Bila suatu pohon yang dipotong itu ada buahnya, maka boleh menjual buahnya, meskipun tanpa ada syarat memetik buahnya.

Tidak boleh menjual pohon biji padi yang masih hijau yang tertanam di bumi (saawah), kecuali dengan syarat memetiknya atau mencabutnya . Jika biji pohon padi itu dijual beserta tanahnya atau hanya bijinya saja tanpa tananhnya setelah menjadi keras, maka boleh menjual tanpa ada syarat.

Barang siapa yang menjual buah-buahan atau biji padi yang belum terang kebaikannya, maka wajib bagi penjual untuk menyirami sekiranya dengan siraman tersebut dapat menaikkan keadaan buah dan selamat dari kerusakan, baik si penjual sudah menyerahkan antara pembeli dan barang yang dijual atau belum menyerahkan.

Tidak sah menjual sesuatu yang didalamnya terdapat riba, dibeli dengan sesuatu yang sejenisnya dalam keadaan masih basah. Kata “رُطْبًا” huruf tha’ yang sepi dari titik dibaca mati.

Mushannif memberikan isyarat dengan cara menggunakan perkataan tersebut adalah dimaksudkan, bahwa sesungguhnya yang dijual itu adalah barang-barang yang sebangsa riba ketika telah sempurna keadaannya, maka tidak sah umpamanya menjual anggur dengan anggur (yang keduanya masih dalam keadaan basah).

Kemudian Mushannif mengecualikan barang-barang yang tersebut itu tadi melalui perkataannya : “kecuali air susu”. Artinya, sah menjual sebagian air susu, dibeli dengan sebagiannya sebelum air susu tersebut menjadi keju. Menurut Mushannif, pengertian “air susu” disini adalah muthlaq . Karena itu mengandung pula pengertian air susu yang cair, kental, bersih dan asam.

Adapun timbangan air susu itu menggunakan takaran, sehingga sah menjual air susu kental dibeli dengan susu cair, dengan menggunakan takaran, meskipun berbeda timbangannya.

 

Sumber:

Diterjemahkan dari kitab Fathul Qorib

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s