Fiqih · Uncategorized

Haidl, Nifas dan Istihadloh

Pengertian Darah Haidl

Secara bahasa berarti mengalir,

Secara istilah adalah darah yang keluar dari ujung rahim wanita dalam keadaan sehat, bukan karena melahirkan atau sakit, dan keluarnya dalam batas waktu tertentu.

 

Kriteria Darah Haidl

  1. Darah yang keluar tidak kurang dari 24 jam.
  2. Darah yang keluar tidak lebih dari 15 hari.
  3. Darah yang keluar sewaktu memasuki usia Haid atau masuk masa Haid.

 

Warna dan Sifat Darah Haid

Warna Darah haidl ada lima yaitu : HItam, merah, oranye, kuning dan keruh

Sifat Darah haidl :

  1. Kental
  2. Berbau/basin
  3. Kental dan Berbau/Basin
  4. Encer dan tidak berbau

Darah hitam kental lebih kuat dari pada darah hitam yang encer. Sedang darah hitam encer dengan darah merah kental, maka darah yang terlebih dahulu  keluar adalah yang lebih kuat

Sebaiknya wanita membuat catatan khusus Haid untuk setiap siklusnya agar dapat diidentifikasi dengan mudah status darah yang keluar, sehingga ia tidak mengalami kebingungan yang akhirnya memposisikan status hukum haidnya menjadi “MUTAHAYYIRAH” yang pada umumnya cukup berat dan sulit untuk dilakukan

 

TANDA – TANDA BALIGH

Tanda baligh bagi wanita itu ada tiga macam :

  1. Genap berumur lima belas tahun Hijriyah
  2. Keluar mani (sperma) sesudah berumur sembilan tahun hijriyah
  3. Haidh yakni keluar darah setelah berusia sembilan tahun hijriyah

Sedangkan tanda baligh bagi laki- laki itu ada dua :

  1. Genap berumur lima belas tahun hijriyah
  2. Keluar sperma setelah berumur sembilan tahun

 

Usia 9 tahun dihitung berdasarkan tahun Qamariyah (hijriyah), bukan tahun Masehi.
1 Tahun Hijriyah : 354 hari, 8 jam, 45 menit
1 Tahun masehi  : 365 hari, 6 jam. Jadi…..

9  Tahun Hijriyah  = 8 tahun Masehi, 8 bulan, 23 hari, 19 jam,
12 menit (masuk umur Haid : 8 tahun masehi, 8 bulan, 7 hari,
19 jam, 13 menit)
15 Tahun Hijriyah = 14 tahun Masehi, 6 bulan, 19 hari, 9 jam
(sudah baligh)

 

HAIDH PERTAMA

Haidh pertama akan terjadi bila wanita sudah berusia kurang lebih 9 tahun. Yang dimaksud kurang lebih disini adalah ; Bila berumur 9 (sembilan) tahun kurang 16 (enam belas) hari 16 (enam belas) malam  keatas sudah mengeluarkan darah itu tidak dihukumi haidh tapi dihukumi Istihadloh (darah karena suatu penyakit).

Bila Usia 9 (sembilan) tahun kurang 15 (lima belas) hari kebawah itu dihukumi darah haidh. Adapun bila mengeluarkan darah sampai berhari-hari yang mana sebagian belum masuk usia haidh dan sebagian lagi sudah masuk usia haidh, maka yang pertama dihukumi Istihadloh sedang yang kedua dihukumi haidh.

 

 

 

haid1

MASA HAIDH DAN MASA SUCI

Masa haidh itu paling sedikit sehari yakni 24 jam. Dua puluh empat jam disini maksudnya adalah ; baik darah itu keluar dengan terus menerus atau terputus – putus dalam masa lima belas hari, artinya ; Sekali waktu keluar sekali waktu berhenti yang mana bila waktu keluarnya darah tersebut dihitung / dijumlah sudah genap 24 jam. Nah darah ini dihukumi darah haidh asalkan masih dalam masa 15 (lima belas) malam. Bila jumlahnya kurang dari 24 jam tidak dihukumi darah haidh tapi darah Istihadloh, jadi tetap wajib sholat.

Adapun batas “terus –menerus” adalah ; Bila kapas dimasukkan kedalam lubang vagina masih ada warna darah, ini dihukumi masih keluar sekalipun darah tersebut tidak sampai keluar pada tempat yang wajib dibasuh ketika bersuci.

Sedangkan masa haidh yang paling lama adalah ; Lima belas hari lima belas malam . Adapun lazimnya haidh itu selama 6 (enam) hari 6 (enam) malam atau 7 (tujuh) hari 7 (tujuh) malam. Semua itu berdasarkan penelitian Imam Syafi’i terhadap kaum wanita Arab.

Sedangkan masa suci yang memisah antara haidh satu dengan berikutnya paling sedikit adalah selama 15 (lima belas) hari 15 (lima belas) malam.

Paling lama masa suci tidak terbatas. Dan lazimnya menurut masa haidh, jadi kalau haidhnya selama 6 (enam) hari, maka masa sucinya selama 24 (Dua puluh empat)hari. Bila selama 7 (tujuh) hari, maka sucinya selama 23 (Dua puluh tiga) hari.

Darah yang keluar saat sedang hamil itu dihukumi darah haidh dengan syarat sebagai berikut ;

v   Genap sehari semalam

v   Tidak melebihi 15 hari 15 malam

v   Keluarnya sebelum merasakan sakitnya melahirkan. Wallahu ‘Alam.

 

Darah Nifas

Nifas menurut arti bahasa adalah ; Melahirkan.

Sedangkan menurut arti syara’ adalah ; Darah yang keluar dari kemaluan wanita setelah melahirkan. Adapun darah yang keluar menyertai bayi atau saat merasakan sakitnya melahirkan itu tidak dihukumi Nifas tapi darah Istihadloh.

Darah Nifas ini keluarnya peling sedikit cuma setetes. Dan lazimnya selama 40 hari 40 malam. Sedang masa paling lama adalah selama 60 hari 60 malam. Semua itu juga menurut penelitian Imam Syafi’I terhadap kaum wanita Arab.

Masa Nifas yang paling lama yakni 60 hari 60 malam ini dihitung sejak lahirnya bayi, tapi yang dihukumi nifas dihitung sejak keluarnya darah. Jadi seumpama melahirkan tanggal 1 (satu) kemudian keluar darah pada tanggal 5 (lima) , maka hitungan 60 hari 60 malam dihitung mulai tanggal 1 (satu), dan dihukumi nifas mulai tanggal 5 (lima). Adapun tenggang waktu antara melahirkan  dan mengeluarkan darah  dihukumi suci, jadi tetap wajib  melaksanakan sholat dan kewajiban-keawajiban yang lain.

Tenggang waktu antara melahirkan dan mengeluarkan darah itu paling lama 15 (lima belas) hari. Bila melebihi 15 (lima belas) hari, bukan dinamakan  / tidak dihukumi nifas tapi dihukumi haidh.

Lebih jelasnya bisa dilihat di bawah ini

haid2

 haid3

haid4

 

ISTIHADLOH

  1. Darah yang keluar di luar masa Haid atau Nifas.
  2. Darah yang keluar melebihi ukuran maksimal Haid (15 hari) atau Nifas (60 hari) atau kurang dari minimal masa Haid (24 jam).
  3. Darah yang keluar sewaktu wanita belum memasuki usia minimal Haid(menarche : 9 tahun).

Menurut Syara’ adalah : darah yang keluar dari kemaluan wanita  yang bukan lagi haidh atau nifas. Wanita yang mengeluarkan darah Istihadloh disebut Mustahadloh.

Keberadaan darah istihadhah bersama darah Haid merupakan suatu masalah yang rumit.

Sehingga, keduanya harus dibedakan. Caranya bisa dengan ‘adat (kebiasaan Haid) atau dengan tamyiz (membedakan sifat darah).

DARAH HAID DARAH ISTIHADHAH
Sifat alami Tidak alami
Keluar dari rahim Dari pecahnya urat pada sisi rahim
Hitam (umumnya) Merah segar
Kental dan berbau Encer tidak berbau

 

Mustahadloh terbagi menjadi tujuh macam :

  1. Mustahadloh Mumayyizah:

Wanita yang baru pertama haid dan bisa membedakan antara warna darah kuat dan darah lemah. Darah wanita ini dihukumi sebagai berikut : Darah yang lemah dihukumi Istihadloh sedang darah kuat duhukumi Haid, baik darah kuat keluar lebih dahulu atau tidak, atau ditengah-tengah asalkan tidak bersilang.

Darah wanita ini bisa dihukumi demikian dengan empat syarat :

  1. Darah kuat tidak kurang 1 hari 1 malam (24 jam) yakni batas minimal masa haid.
  2. Darah kuat tidak melebihi 15 hari 15 malam yakni batas maximal masa haid.
  3. Darah lemah tidak kurang dari 15 hari 15 malam. Yakni batas minimal masa suci bagi wanita yang mengeluarkan darah secara terus menerus.
  4. Darah kuat dan darah lemah keluarnya tidak bersilang.

Bila keempat syarat ini tidak genap, maka wanita ini hukumnya sama dengan wanita kedua yang akan diterangkan dibawah ini :

Contoh wanita nomor satu ini adalah :

¯     Mengeluarkan darah kuat 3 hari kemudian berganti darah lemah 27 hari, maka yang 3 hari dihukumi haid, yang 27 hari dihukumi Istihadloh.

¯     Mengeluarkan darah lemah 5 hari, berganti darah kuat 6 hari, berganti lagi darah lemah 19 hari, maka yang 5 hari pertama dihukumi Istihadloh, yang 6 hari ditengah-tengah dihukumi haid dan yang 19 hari terakhir dihukumi Istihadloh lagi.

Bagi wanita nomor satu ini, untuk bulan pertama mandinya harus menanti sampai genap 15 hari 15 malam dan dia berkewajiban mengqodlo sholat yang dia tinggal saat mengeluarkan darah lemah. Sedang untuk bulan kedua dan seterusnya, mandinya sewaktu darah yang keluar berganti darah lemah dan dalam bulan-bulan ini dia tidak punya hutang sholat.

  1. Mubtadiah Ghoiru Mumayyizah:

Wanita  yang baru pertama Haid dan tidak bisa membedakan antara darah kuat dan lemah atau bisa membedakan tapi tidak memenuhi syarat wanita nomor satu yang telah diterangkan diatas.

Wanita ini hukumnya sebagai berikut :

Bila dia ingat kapan mulai keluar darah, maka yang dihukumi haid Cuma 1 hari 1 malam dan masa suci selama 29 hari 29 malam. Jika dia tidak ingat kapan mulai keluar, maka hukumnya sama dengan MUTAHADLOH MUTAHAYYIROH yang akan diterangkan berikutnya.

Contoh – contoh wanita ini adalah sebagai berikut :

¯     Mengeluarkan darah selama 1 bulan. Sifat-sifat darah (kuat dan lemah) sama persis. Darah ini yang dihukumi haid adalah darah yang keluar dalam 1 hari 1 malam yang pertama sedang hari berikutnya dihukumi Istihadloh

¯     Mengeluarkan darah 25 hari. Sehari darah kuat sehari lagi darah lemah terus bersilang sampai hari terakhir. Darah ini yang dihukumi haidh adalah juga darah yang keluar dalam 1 hari 1 malam (24 Jam) yang pertama, sedang hari berikutnya dihukumi darah Istihadloh.

Bagi wanita nomor 2 (dua) ini,  untuk bulan pertama haidh, mandinya harus 15 hari 15 malam dan diwajibkan mengqodlo sholatnya selama 14 hari 14 malam (mulai hari kedua keluar darah sampai hari 15). Sedang untuk bulan-bulan berikutnya, mandinya tidak perlu menanti genap 15 hari 15 malam, tapi cukup 1 hari 1 malam (24 jam) mulai dari keluarnya darah. Dalam bulan-bulan ini dia tidak mempunyai hutang sholat.

  1. Mu’tadah Mumayyizah

Wanita sudah haidh dan suci dan bisa membedakan warna darah kuat dan lemah. Wanita ini hukumnya sama dengan wanita nomor satu, kecuali bila antara masa kebiasaan haidnya dan perbedaan darah ada tenggang waktu 15 hari 15 malam.

Contoh :

Kebiasaan haidhnya selama 3 hari kemudian pada satu bulan dia mengeluarkan darah selama 21 hari yang 19 hari darah lemah. Dan yang 2 hari darah kuat. Maka yang dihukumi haidh adalah 5 hari  yaitu 3 hari pertama dan karena disamakan dengan kebiasaan haidhnya dan 2 hari terakhir karena unsur perbedaan darah. Adapun waktu 16 hari diantara keduanya dihukumi darah Istihadloh.

Empat syarat bagi wanita nomor satu diatas juga menjadi syarat bagi wanita nomor 3 ini.

  1. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiron Li’adatiha Qodron Wa Waqtan

Wanita yang sudah pernah haidh dan suci dan tidak bisa membedakan warna darah atau bisa membedakan warna darah tapi tidak memenuhi empat syarat diatas dan dia ingat masa dan permulaan keluarnya haidh pada bulan itu. Wanita ini hukumya sebagai berikut:

Masa dan permulaan haidh disamakan dengan kebiasaan haidhnya. Kebiasaan yang bisa dibuat pedoman cukup satu kali kejadian asalkan tidak berubah.

Contoh :

Pada bulan dia haidh selama 5 hari mulai awal bulan kemudian suci selama 25 hari pada bulan kedua mengalami Istihadloh dengan mengeluarkan darah yang tidak dapat dibedakan kuat dan lemahnya atau bisa dibedakan tapi tidak memenuhi syarat empat , maka yang dihukumi haidh adalah 5 hari yang pertama dan yang dihukumi suci adalah 25 hari yang terakhir. Untuk bulan berikutnya dihukumi sama dengan bulan pertama.

Bagi wanita ini pada bulan pertama Istihadloh, mandinya harus menanti genap 15 hari 15 malam dan wajib mengqodlo’ sholatnya yang ditinggal selama setelah genap kebiasaan masa haidhnya. Sedang pada bulan kedua dan berikutnya, mandinya tidak perlu menanti genap 15 hari 15 malam tapi cukup menanti genap kebiasaan masa haidhnya. Dalam bulan-bulan ini dia dihukumi tidak mempunyai hutang sholat.

  1. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Nasiyan Li’adatiha Qodron Wa Waqtan

Wanita yang sudah pernah haidh dan suci dan tidak bisa membedakan warna darah atau bisa membedakan tidak memenuhi syarat empat diatas, disamping itu dia lupa masa dan permulaan haidhnya pada bulan yang lalu. Wanita yang seperti ini menurut istilah ulama’ disebut MUTAHIYYIROH ( Wanita yang bingung dalam Istihadloh yang dia alami ).

Wanita ini hukumnya sebagai berikut : Dia diwajibkan untuk selalu berhati-hati dan teliti, artinya dia diharamkan bersetubuh, membaca Al-qur’an diluar sholat seperti halnya orang yang lagi haidh dan wajib melaksanakan sholat, puasa Ramadhan sebagaimana orang yang lagi suci. Bila dia tidak ingat sama sekali, maka wajib mandi setiap masuk waktu untuk mengerjakan sholat. Adapun bila ingat, misalnya berhentinya darah pada bulan lalu saat matahari terbenam, maka dia diwajibkan mandi setiap waktu terbenam matahari. Sedang sholat untuk sholat-sholat yang lain cukup melaksanakan wudlu.

Untuk puasa Ramadhan, dia diwajibkan puasa sebulan penuh dengan terus menerus karena mulainya haidh itu sangat dimungkinkan tanggal 1 siang selama 15 hari 15 malam. Jadi berhentinya tanggal 16 siang. Juga sangat dimungkinkan mulai tanggal 2 siang sampai selama 15 hari  15 malam, jadi berhentinya pada tanggal 17 siang dan seterusnya.

Kesimpulan :

Cara mengqodlo yang dua hari tersebut adalah : Melakukan puasa 3 hari berturut-turut (bersambung) kemudian berbuka selama 12 hari berturut turut lalu puasa lagi 3 hari berturut-turut. Dengan demikian puasanya sudah genap 1 bulan. Lebih jelasnya hitungan ini adalah :

3 hari ditambah 12 hari ditambah 3 hari sama dengan 18 hari, kemudian dikurangi masa haidhnya 16 hari.

  1. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiron Li’adatiha Qodron La Waqtan

Wanita yang sudah pernah haidh dan tidak bisa membedakan warna darah lemah dan kuat atau bisa membedakan tapi tidak memenuhi syarat empat diatas, dan dia ingat kebiasaan mulainya.

Contoh :

Dia ingat bahwa masa haidhnya selama 5 hari dalam 10 hari pertama, tapi dia lupa mulai tanggal berapa, dia hanya ingat bahwa tanggal 1 yaqin suci, tanggal 2 dia ragu sudah haidh apa masih suci, tanggal 6 yaqin jaidh, tanggal 7 samapai 10 ragu masih haidh atau suci, tanggal 12 sampai akhir bulan yaqin suci.

Wanita ini hukumnya sebagai berikut :

  • Pada waktu yang dia yaqini haidh, dia dihukumi haidh ( haram melakukan sholat dan lainya)
  • Waktu yang diyaqini suci, dihukumi suci (boleh disetubuhi dan lainya). Sedang diwaktu ragu-ragu sudah haidh apa masih suci, dia dihukumi sama dengan wanita nomor 5 ( harus berhati – hati dst ). Dan mandinya dilakukan hari / tanggal dimana dia ragu masih haidh apa sudah suci.
  1. Mu’tadah Ghoiru Mumayyizah Dzakiron Li’adatiha Waqtan La Qodron

Wanita yang sudah pernah haidh dan tidak bisa membedakan warna darah atau bisa membedakan warna darah tapi tidak memenuhi syarat empat diatas, dan dia ingat waktu mulainya haidh tapi lupa masa lamanya.

Contoh :

Dia ingat bahwa mulai haidh tanggal 1 tapi lupa berapa hari lamanya, dia hanya ingat bahwa tanggal 1 yaqin haidh, tanggal 2 sampai 15 hari ragu antara haidh dan suci serta mulai berhenti darah, tanggal 16 sampai akhir bulan yakin suci.

Hukum wanita ini adalah : Waktu yang diyakini haidh dihukumi sebagaimana orang haidh, waktu yang diyakini suci dihukumi sebagimana orang suci. Sedang waktu ragu antara haidh dan suci serta berhenti darah dihukumi seperti wanita nomor 5 diatas.

Catatan :

Bila ada wanita mengeluarkan darah yang sifatnya tidak sama ( sebagian lemah, sebagian darah kuat) tapi masanya tidak melebihi 15 hari 15 malam, maka semua darah ini dihukumi haidh. Sebab hukum terperinci yang ada di bab Istihadloh diatas hanya bagi wanita yang mengeluarkan darah melebihi 15 hari 15 malam .

Larangan Bagi wanita haidl

  1. Shalat (tidak wajib qadla’)
  2. Puasa Ramadlan (wajib qadla’)
  3. Tawaf
  4. I’tikaf
  5. Sujud syukur dan tilawah
  6. Masuk masjid
  7. Membaca dan menyentuh Al-Qur’an
  8. Menulis Al-Quran (bagi sebagian ulama)
  9. Bersuci
  10. Bersetubuh
  11. Dicerai (ditalaq)

 

Cara Shalat Bagi Wanita Istihadhah

Karena kondisi darah wanita yang mengalami istihadhah ini masih terus mengalir, maka ketika akan melaksanakan shalat fardhu terlebih dahulu harus melakukan 4 perkara :

  1. Menunggu bersuci sampai berhentinya darah, meskipun hanya beberapa menit setelah itu keluar lagi, jika yakin bahwa darahnya biasa berhenti ketika waktu shalat fardhu masih cukup. Jika tidak yakin, maka ketika masuk waktu shalat segera bersuci.
  2. Sebelum wudhu’ terlebih dahulu membersihkan kemaluan dan menutupnya dengan pembalut agar darahnya tidak menetes. (Terutama menutup dengan kapas pada bagian yang sekiranya tampak ketika lagi jongkok).
  3. Berwudhu ketika masuk waktu shalat fardhu. Jadi, tidak sah,kalau berwudhu’ sebelum waktunya masuk.
  4. Setelah wudhu’ segera melaksanakan shalat fardhu, tidak boleh ditunda-tunda, kecuali bila penundaan karena menunggu shalat berjama’ah.

 

CARA MENQADHA’ SHALAT

Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa apabila shalat yang ditinggalkan itu merupakan shalat yang dapat dijamak (dua shalat dikerjakan dalam satu waktu), misalnya shalat dhuhur dengan shalat ashar, shalat maghrib dengan shalat isya’, maka ia harus mengqadha shalat itu dengan shalat yang dapat dijamak yang menjadi rangkaiannya. Misalkan, seorang wanita haid di waktu dhuhur dan ia belum melakukan shalat, maka ia wajib baginya menqadha shalat dhuhur dan shalat ashar ; karena shalat ashar merupakan yang dapat dijamak dengan shalat dhuhur. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat rincian ketentuannya dalam tabel berikut :

haid5haid6haid8haid7

Sumber:

Kitab Risalatul Mahid karangan Kyai Ardani

Pondok Al Falah Ploso Mojo, Kediri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s